Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

(Sebenarnya) Mendidik itu Sederhana



"(Sebenarnya) Mendidik itu Sederhana"

Ingin anak taat kepada Allah?
Anda harus taat kepada Allah.
Ingin anak menjaga aurat?
Anda harus menjaga aurat.
Ingin anak hormat terhadap yang lebih tua?
Anda harus hormat terhadap yang lebih tua.
Ingin anak bersikap disiplin?
Anda harus bersikap disiplin.
Ingin anak menuju sorga?
Anda harus menuju sorga.
Tidak ingin anak bersikap kasar?
Anda jangan bersikap kasar.
Tidak ingin anak berkata kotor?
Anda jangan berkata kotor.
Tidak ingin anak merokok?
Anda jangan merokok.
Tidak ingin anak berbohong?
Anda jangan berbohong.
Tidak ingin anak ke neraka?
Anda jangan ke neraka.

Jakarta, 29 Juli 2017 - 2 Mei 2024

Surat untuk Kartini

"Surat untuk Kartini"

Ibunda, 

Suratmu telah lama kuterima

Telah lama pula kubaca

Namun, baru kali ini aku bisa membalasnya


Ceritamu mendidik masyarakat pribumi sangat menyadarkanku

Engkau tidak sekadar ingin memajukan kaum perempuan

Engkau ingin semua masyarakat tidak mampu maju bersamamu


Kegemaranmu menulis surat terhadap sahabat-sahabat

Menyadarkan aku bahwa engkau banyak membaca

Kemahirannu berbahasa asing mampu menyejajarkan dirimu dengan bangsa lain

Engkau tunjukkan keunggulan bangsamu di hadapan mereka


Kesempatan yang engkau dapat untuk melanjutkan pendidikan

Kau berikan pada seorang pemuda yang kelak juga menjadi pahlawan

Kami telah mengenalnya, Haji Agus Salim namanya


Kecintaanmu terhadap Tuhanmu tak perlu lagi diragukan

Kau pinta Kyai Soleh Darat untuk membuat terjemahan kitab sucimu

Ya, bagaimana kita bisa mengamalkan suatu ajaran jika tidak memahami

Sungguh engkau hamba Tuhan sejati, gelar tertinggi yang kau ingini


Kehidupanmu mencapai puncak kesempurnaan tatkala kau terima pinangan Bupati Rembang

Engkau tidak menolaknya meskipun dijadikan yang kesekian

Hingga nafasmu terhenti seusai kau tumpahkan darah untuk generasimu berikutnya


Ibunda, 

Kutulis balasan surat ini dengan merah muka

Kebanyakan kami hanya mengingat kebayamu

Bukan perjuanganmu

Kita Hanya Bersandiwara

 


"Kita Hanya Bersandiwara"

Sedikit mengenang kisah yang telah lalu...

Keterpautan hati yang begitu lampau
belum yakinkan mesra antara kita
Akrab yang mengalir selama ini
ternyata hanya sebuah sandiwara dusta

Bila kukata cinta sepenuh jiwa
pun kaukata tanpa ada rasa makna
maka yang timbul hampa cinta yang lara

Kalau kubisik kasih sebersih putih
pun kaubisik tanpa ada hasrat merintih
bahkan yang ada pedih kasih yang perih

Jika kubilang sayang beribu bayang
pun kaubilang tanpa ada rindu menerjang
hingga yang hadir sunyi hati yang gersang

Kebersamaan raga yang kini makin meragu
mulai kalahkan hasrat di dalam dada

Dusta yang terbangun selama ini
usik hatiku bahwa kita hanya bersandiwara

Jakarta, 7 Februari 1999 - 7 Maret 2024

Sebuah Tanya

 


Kudengar suara tangis saudaraku
Dari mana tak kutahu
Suaranya parau
Tangisnya sendu

Saat kulihat raut wajahnya
Dari secercah sinar cahaya
Rautnya melas
Wajahnya pias

Lalu kurengkuh tubuhnya yang rapuh
Dari guncangan angin riuh
Tubuhnya luluh
Nafasnya luruh

Kau pun bisikkan dukamu padaku
Dari tak tahu kujadi tahu
Bisikmu kelu
Dukamu kelabu

Sayang kutak bisa jawabnya
Sebuah tanya dari cerita
Namun,
Tidak semua tanya berakhir jawab

Jakarta, 15 Februari 1998-2024

Negeriku

 


NEGERIKU


Perlahan,

Sayup yang mendera dari menara-menara

Berubah menjadi gema

Bangunkan insan yang lena

Berikan embun kesejukan dalam pengharapan

Jadikan sebuah batu pijakan

Kalau hari telah menanti

                    

                    Perlahan,

                    Kabut yang menyelimuti gunung-gunung

                    Mengasap menjadi awan   

                    Hijaukan daun dan rerumputan

                    Berikan cerah keemasan dalam pergulatan

                    Jadikan tepi sebuah tujuan

                    Harus lalui ombak yang mendebur

                                        

                                        Perlahan,

                                        Karunia yang mencurah dari tebing-tebing

                                        Menderu membentuk irama

                                        Segarkan raga yang menua

                                        Berikan arah jalan dalam kepulangan

                                        Jadikan bumi sebagai persinggahan

                                        Sampai hadapi senja yang menanti


Jakarta, 7 Februari 1999 - 4 Februari 2024

(sebuah renungan bagi mereka yang mendamba negeri yang hakiki)


Pusara

 


Tadi siang banyak yang dikubur
satu... dua... dan tiga
Hmmm...
Mungkin lebih dari itu
Bauran bunga dan tanah basah menghembus tajam
menandakannya

Aku terpekur menatap nanap...
Julangan pusara yang tertancap
bangkitkanku dari tidur yang lelap
Aku terkesiap
Betapa waktu yang lindap
melenakanku dalam jutaan harap

Kembali mata ini menanap
ke barisan pusara yang menjulang
Satu di antaranya, kusimpuhi
Dalam nisan tergores sebuah nama
orang yang seharusnya kukasihi
tapi telah pergi

Aku jadi ingat...
Harusnya banyak pusara yang menghujat
Bukan hanya pusara itu
yang memiliki rasa rindu
padaku
pada doaku

Dengan saat yang singkat
kuhendak tinggalkan barisan pusara
Kembali kuhitung yang mau dikubur
satu... dua... dan...
Hmmm...
Hilang satu

Kucari jejak yang menanda
tapi tiada....

ditulis di Jakarta, 25 November 1997

Jakarta, Senin, 26 November 2023

Hidup adalah Cerita

 


"Hidup adalah Cerita"


Beruntun cerita bahagia mengalir
hingga diri lupa segala
hidup bukan hanya tertawa
mesti ada luka yang mengukir

            setelah cinta
            disusul senyum bahagia
            semua menduga
            'kan berakhir cerita

nyatanya salah
benar-benar salah
karena cerita belum berakhir

            harus ada luka
            kalau ada suka
            karena hidup adalah cerita

Jakarta, 22 Oktober 2000-2023

Hitampun Memutih

 


sajak buat Bapak

Tatkala harus Kau lalui lembar-lembar hitam
tiada pernah terlintas olehmu untuk menggantikannya
dengan yang putih

Terasa apa yang Kau jalani
akan semakin hitam
dan mengelam

Ketika Kau dapati dirinya yang terluka
fitrahmu tergugah untuk mengobatinya
menjadikannya lebih berarti
walau harus Kau hadapi banyak duri yang menanti

Meski tiada lama Kau menemani
Kau ikhlaskan kepergiannya
menuju alam bahagia
yang sejati

Tegarmu sebagai laki-laki
membuatmu tiada pernah berpaling
biar hasrat terus menyusup
Kau tepis penuh adab

Hingga Kau menyusulnya
menuju alam kebahagiaan
setelah Kau torehkan tinta emas kebajikan
dalam sisa lembar hidupmu yang putih.


"Allahumaghfirlahu..."


Jakarta, 21 September 1995-2023

Harakiri

 


Untuk Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Baru kini kutahu pasti
Mengapa UN menjegal belasan anak kami
Ternyata mereka memang layak untuk itu

Dari mana kutahu?
Baru lima belas menit soal dibagi
Mereka sudah terbengong-bengong menanti-nanti!
Apa yang mereka nanti?

Ho… ho… baru kini kutahu pasti
Mereka menanti guru mereka yang telah berjanji mengumbar kunci
Guru mereka yang merasa bak pahlawan seperti Panji

Baru kini kutahu pasti
Mengapa UN menjegal belasan anak kami

Ternyata guru mereka juga masih perlu diuji
Sebab kunci yang mereka beri masih harus direvisi
Lima puluh nomor yang sudah dibulatkan
Lima puluh nomor yang harus diperbaiki

Wahai Guru!
Jangan pernah merasa menjadi pahlawan tanpa tanda jasa
Jika muridmu masih kauracuni dengan kebodohanmu yang memalukan dan memilukan itu
Carilah sebilah pedang!
Tancapkan ke dadamu!
Itu masih lebih terhormat bagimu
Dibandingkan kauracuni berjuta anak bangsa dengan sikapmu yang berjuta tapi

dari sebuah ruang ujian Paket C
Jakarta, Kamis 25 Juni 2009

Ahad, 25 Juni 2023

Aku Sebutir Debu


Tuhan!
Air mata ini masih mengalir
bukan hanya karena luka
tapi juga andil tawa

luka...
telah puas aku dicumbunya
dengan segala permainan gila

tawa...
tak pernah malu kumerayunya
walau dengan air mata buaya

Tuhan!
Belum kering air mata ini
bukan hanya karena nista
tapi juga hati berdebu

dan aku adalah sebutir debu yang mudah Kau kibas.

Jakarta, 22 Juni 1999

Si Buta dari Dunia Fantasi

 


"Si Buta dari Dunia Fantasi"

Dengan tegap lenggang terus melangkah
Sebersit angkuh muncul secercah
Berharap semua mata terpanah
Berdecak harap penuh gairah

Ternyata salah!
dan kalah!
Matanya terpanah
Sebuah jiwa lemah...

Menoleh kanan kiri mencari
Adakah obat penyembuh diri
Satu pemandu yang diberi
hancur lebur tak terperi

Untung ada yang menolong
Hingga tiada sempat melolong
"Oh, mata ini membuta..."
dipenuhi fantasi yang fana

Jakarta, 5 Mei 1999-2022

Cukuplah Allah Bagiku

Cukuplah Allah Bagiku

Bila aku temukan dia
Bukan karena tanpa sengaja
Yang sekiranya menggoyah hati
Dalam dada lemah ini

                    Bila aku biarkan dia
                    Bukan karena aku sengaja
                    Yang sekiranya membuatku lupa
                    Karena aku insan biasa

Bila aku panggil dia
Bukan karena dia yang pinta
Yang sekiranya harus kuturut
Karena aku tak ingin menuntut

                    Bila aku inginkan dia
                    Bukan karena nafsu semata
                    Yang sekiranya mendominasi
                    Hasrat di relung hati

Bila aku rindukan dia
Bukan karena rindu biasa
Yang sekiranya selalu ada
Di dada setiap manusia

                    Bila aku lepaskan dia
                    Bukan karena sudah tak cinta
                    Yang sekiranya aku tak suka
                    Bisa aku lupakan saja

Bila kini aku sendiri
Bukan berarti ini yang kuingini
Karena di dalam tekadku
Cukuplah Allah bagiku!

Kramat Asem, 14 Desember 1997

Sedang Sedih


 

Semua yang kulihat
Tampak begitu mengkilat
Menghujat ke dalam tatap
Sisakan tombak yang menancap
Hingga semburat darah bersemburan
Penuhi ruang wajah bercemburuan

Semua yang kudengar
Seolah begitu hingar
Memancar ke dalam bingar
Sisakan jerit yang terumbar
Hingga alunan suara bertiupan
Lingkupi ruang rungu bernyanyian

Semua yang kurasa
Bagaikan begitu luka
Merobek ke dalam sukma
Sisakan lara yang mendera
Hingga seutas duka bertemali
Naungi ruang jiwa berkali

Semua yang kuimpi
Ibarat begitu sunyi
Memberi ke dalam sepi
Sisakan melodi yang terhenti
Hingga sedawai kasih memerih
Tandai hati sedang sedih

Jakarta, 14 Februari 1999-2023

Elegi Kelabu



Sang pungguk merindukan bulan
Sang bulan selalu membayang
Rupa dan geraknya
Sejak pandangan pertama

Sang pungguk terus mencoba
Berpikir ia tak henti
Agar dapat terlihat bulan
Walau dengan mencuri

Yang dicari perhatian
Yang timbul malah keraguan
Mungkinkah ia disukai sang bulan?
Sang pungguk dirundung keputusasaan

Saat jumpa
Sang pungguk dan sang bulan
Sang pungguk hanya diam
Malu

Sang pungguk merasa dadanya sesak
Ia pun bertekad bulat
‘kan ia sampaikan isi hatinya
Tiada dengan berpura-pura

Kesempatan itu datang
Mereka hanya berdua
Sang pungguk diam

Malu dan ingin, berpadu
Membuatnya bisu
Kesempatan itu pun berlalu
Dengan sia-sia ….

Jakarta, 14 Desember 1997

Pijar Bara Sesaat

 
"Pijar Bara Sesaat"


Seonggok perapian usang
terkapar beku tak tersentuh

            Jelaganya yang memburam
            mengetuk kalbu ‘tuk membasuh

                        Bukan dengan air mata
                        karena beningnya ‘kan ternoda

Bukan dengan tapak terbuka
karena lembutnya ‘kan tertiada

            Ambillah bara di dada
            percikkan dia di sana
            tunggulah letup-letupnya
            nantikan pijar-pijarnya

                        hingga tercipta di sekitarnya
                        beribu kehangatan dan berjuta cahaya
                        menelusup menelisik jiwa
                        menebar memancar raga

sampai pijar yang ada
berubah menjadi bara
mengerang dan mengarang

Jakarta, 22 Februari 2004-2023

Mimpi Pasti



Masih dengan samar kuterjaga dari lelapku
Kusapu seluruh ruang dengan pandangan edar
Begitu banyak yang mengerumuniku
berbaris rapih
berputih bersih

Kucoba kenali wajah demi wajah
Tak satupun kukenal
Semua begitu asing menatapiku
tanpa emosi
begitu dingin

Tuhanku! Inikah ajalku?
Mereka menjemputku!
mengajakku tinggalkan maya
penuh paksa...
walau bisu

Jangan! pekikku tercekat
Seulur tangan menyentuh nadi nafasku
Kutepiskan penuh ngeri
Peluhpun mengucur
basahi alas pembaringan....

Jakarta, 20 Februari 1999

Kepada Perempuan Jelita


Darah birumu membuat semua jiwa selalu tunduk
Tajam fikirmu membuat semua rasa harus salut
Elok rupamu membuat semua jaka pasti pana
Santun lakumu membuat semua raga jadi suka

Namun,
darah birumu yang mengalir
tajam fikirmu yang mengukir
elok rupamu yang mendesir
santun lakumu yang menyetir
tiada mampu menentang takdir

hingga,
Kau harus terhempas dalam kemewahan
sebelum terpuruk dalam kepedihan

Dulu,
Kasihmu yang tulus
tiada berbalas
Setiamu yang putih
teramat pedih

Kini,
Kutahu kisahmu
setelah pergimu, Ibu.

Jakarta, 15 Februari 1998

Demi Kasih Ayah


Demi Kasih Ayah

 

Sebuah pigura maya
Temui mimpiku yang sunyi…
Kubasuh mukanya
Dengan jemari berlumur luka

Sesaat bayang itu hadir
Putar kembali adegan dulu
Kasihnya padaku
Kalahkan siksa yang mendera

Maafkan, Ayah!
Kasihmu belum berbuah
Bukan tiada berbalas
Walau bukan emas

Untukmu, Ayah!
Kuterima dukaku
Meski tak kusanggupi
Pasti ‘kan bertepi.

Jakarta, 14 Februari 1999


Pengaduanku

 


"Pengaduanku"

Ya, Allah!
Mata ini buta akan kebesaran-Mu
hingga aku buta segala
Telinga ini tuli akan kearifan-Mu
hingga aku tuli segala
Hidung ini hambar akan keharuman-Mu
hingga aku hambar segala
Mulut ini bisu akan keagungan-Mu
hingga aku bisu segala
Tangan ini kaku akan karunia-Mu
hingga aku kaku segala
Kaki ini timpang akan ke hadirat-Mu
hingga aku timpang segala
Hati ini beku akan kasih-Mu
hingga aku beku segala

Ya, Allah!
Mata ini
Telinga ini
Hidung ini
Mulut ini
Tangan ini
Kaki ini
Hati ini
Jangan Kau biarkan mati!

Jakarta, 26 Desember 1998-2022

Lewat Tengah Malam

 

"Lewat Tengah Malam"

Lewat tengah malam...
Alam sunyi, pun hati
Serangga malam bisu
Sepoi angin rasa beku
dingin merasuk kalbu

Harapku...
Usaikan sepi
Tamatkan duka
Cukupkan perih
Biar rindu menggantikannya

Namun,
jangan biarkan rindu berlarut
Sebab hati rasakan hampa
Terasa beban menghimpit luka
yang terkuak,
dan menganga

Aku rindu
Kutunjukkan inginku
Bukan dengan angkuh
tapi,
dengan harapku
Lewat tengah malam....

Jakarta, 7 Oktober 1997 - 7 November 2022