"(Sebenarnya) Mendidik itu Sederhana"
(Sebenarnya) Mendidik itu Sederhana
Surat untuk Kartini
"Surat untuk Kartini"
Ibunda,
Suratmu telah lama kuterima
Telah lama pula kubaca
Namun, baru kali ini aku bisa membalasnya
Ceritamu mendidik masyarakat pribumi sangat menyadarkanku
Engkau tidak sekadar ingin memajukan kaum perempuan
Engkau ingin semua masyarakat tidak mampu maju bersamamu
Kegemaranmu menulis surat terhadap sahabat-sahabat
Menyadarkan aku bahwa engkau banyak membaca
Kemahirannu berbahasa asing mampu menyejajarkan dirimu dengan bangsa lain
Engkau tunjukkan keunggulan bangsamu di hadapan mereka
Kesempatan yang engkau dapat untuk melanjutkan pendidikan
Kau berikan pada seorang pemuda yang kelak juga menjadi pahlawan
Kami telah mengenalnya, Haji Agus Salim namanya
Kecintaanmu terhadap Tuhanmu tak perlu lagi diragukan
Kau pinta Kyai Soleh Darat untuk membuat terjemahan kitab sucimu
Ya, bagaimana kita bisa mengamalkan suatu ajaran jika tidak memahami
Sungguh engkau hamba Tuhan sejati, gelar tertinggi yang kau ingini
Kehidupanmu mencapai puncak kesempurnaan tatkala kau terima pinangan Bupati Rembang
Engkau tidak menolaknya meskipun dijadikan yang kesekian
Hingga nafasmu terhenti seusai kau tumpahkan darah untuk generasimu berikutnya
Ibunda,
Kutulis balasan surat ini dengan merah muka
Kebanyakan kami hanya mengingat kebayamu
Bukan perjuanganmu
Kita Hanya Bersandiwara
Keterpautan hati yang begitu lampau
belum yakinkan mesra antara kita
Akrab yang mengalir selama ini
ternyata hanya sebuah sandiwara dusta
Bila kukata cinta sepenuh jiwa
pun kaukata tanpa ada rasa makna
maka yang timbul hampa cinta yang lara
Kalau kubisik kasih sebersih putih
pun kaubisik tanpa ada hasrat merintih
bahkan yang ada pedih kasih yang perih
Jika kubilang sayang beribu bayang
pun kaubilang tanpa ada rindu menerjang
hingga yang hadir sunyi hati yang gersang
Kebersamaan raga yang kini makin meragu
mulai kalahkan hasrat di dalam dada
Dusta yang terbangun selama ini
usik hatiku bahwa kita hanya bersandiwara
Jakarta, 7 Februari 1999 - 7 Maret 2024
Sebuah Tanya
Kudengar suara tangis saudaraku
Dari mana tak kutahu
Suaranya parau
Tangisnya sendu
Saat kulihat raut wajahnya
Dari secercah sinar cahaya
Rautnya melas
Wajahnya pias
Lalu kurengkuh tubuhnya yang rapuh
Dari guncangan angin riuh
Tubuhnya luluh
Nafasnya luruh
Kau pun bisikkan dukamu padaku
Dari tak tahu kujadi tahu
Bisikmu kelu
Dukamu kelabu
Sayang kutak bisa jawabnya
Sebuah tanya dari cerita
Namun,
Tidak semua tanya berakhir jawab
Jakarta, 15 Februari 1998-2024
Negeriku
NEGERIKU
Perlahan,
Sayup yang mendera dari menara-menara
Berubah menjadi gema
Bangunkan insan yang lena
Berikan embun kesejukan dalam pengharapan
Jadikan sebuah batu pijakan
Kalau hari telah menanti
Perlahan,
Kabut yang menyelimuti gunung-gunung
Mengasap menjadi awan
Hijaukan daun dan rerumputan
Berikan cerah keemasan dalam pergulatan
Jadikan tepi sebuah tujuan
Harus lalui ombak yang mendebur
Perlahan,
Karunia yang mencurah dari tebing-tebing
Menderu membentuk irama
Segarkan raga yang menua
Berikan arah jalan dalam kepulangan
Jadikan bumi sebagai persinggahan
Sampai hadapi senja yang menanti
Jakarta, 7 Februari 1999 - 4 Februari 2024
(sebuah renungan bagi mereka yang mendamba negeri yang hakiki)
Pusara
Tadi siang banyak yang dikubur
satu... dua... dan tiga
Hmmm...
Mungkin lebih dari itu
Bauran bunga dan tanah basah menghembus tajam
menandakannya
Aku terpekur menatap nanap...
Julangan pusara yang tertancap
bangkitkanku dari tidur yang lelap
Aku terkesiap
Betapa waktu yang lindap
melenakanku dalam jutaan harap
Kembali mata ini menanap
ke barisan pusara yang menjulang
Satu di antaranya, kusimpuhi
Dalam nisan tergores sebuah nama
orang yang seharusnya kukasihi
tapi telah pergi
Aku jadi ingat...
Harusnya banyak pusara yang menghujat
Bukan hanya pusara itu
yang memiliki rasa rindu
padaku
pada doaku
Dengan saat yang singkat
kuhendak tinggalkan barisan pusara
Kembali kuhitung yang mau dikubur
satu... dua... dan...
Hmmm...
Hilang satu
Kucari jejak yang menanda
tapi tiada....
ditulis di Jakarta, 25 November 1997
Jakarta, Senin, 26 November 2023
Hidup adalah Cerita
Beruntun cerita bahagia mengalir
hingga diri lupa segala
hidup bukan hanya tertawa
mesti ada luka yang mengukir
setelah cinta
disusul senyum bahagia
semua menduga
'kan berakhir cerita
nyatanya salah
benar-benar salah
karena cerita belum berakhir
harus ada luka
kalau ada suka
karena hidup adalah cerita
Jakarta, 22 Oktober 2000-2023
Hitampun Memutih
sajak buat Bapak
Tatkala harus Kau lalui lembar-lembar hitam
tiada pernah terlintas olehmu untuk menggantikannya
dengan yang putih
Terasa apa yang Kau jalani
akan semakin hitam
dan mengelam
Ketika Kau dapati dirinya yang terluka
fitrahmu tergugah untuk mengobatinya
menjadikannya lebih berarti
walau harus Kau hadapi banyak duri yang menanti
Meski tiada lama Kau menemani
Kau ikhlaskan kepergiannya
menuju alam bahagia
yang sejati
Tegarmu sebagai laki-laki
membuatmu tiada pernah berpaling
biar hasrat terus menyusup
Kau tepis penuh adab
Hingga Kau menyusulnya
menuju alam kebahagiaan
setelah Kau torehkan tinta emas kebajikan
dalam sisa lembar hidupmu yang putih.
"Allahumaghfirlahu..."
Jakarta, 21 September 1995-2023
Harakiri
Untuk Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Baru kini kutahu pasti
Mengapa UN menjegal belasan anak kami
Ternyata mereka memang layak untuk itu
Dari mana kutahu?
Baru lima belas menit soal dibagi
Mereka sudah terbengong-bengong menanti-nanti!
Apa yang mereka nanti?
Ho… ho… baru kini kutahu pasti
Mereka menanti guru mereka yang telah berjanji mengumbar kunci
Guru mereka yang merasa bak pahlawan seperti Panji
Baru kini kutahu pasti
Mengapa UN menjegal belasan anak kami
Ternyata guru mereka juga masih perlu diuji
Sebab kunci yang mereka beri masih harus direvisi
Lima puluh nomor yang sudah dibulatkan
Lima puluh nomor yang harus diperbaiki
Wahai Guru!
Jangan pernah merasa menjadi pahlawan tanpa tanda jasa
Jika muridmu masih kauracuni dengan kebodohanmu yang memalukan dan memilukan itu
Carilah sebilah pedang!
Tancapkan ke dadamu!
Itu masih lebih terhormat bagimu
Dibandingkan kauracuni berjuta anak bangsa dengan sikapmu yang berjuta tapi
dari sebuah ruang ujian Paket C
Jakarta, Kamis 25 Juni 2009
Ahad, 25 Juni 2023
Aku Sebutir Debu

Tuhan!
Air mata ini masih mengalir
bukan hanya karena luka
tapi juga andil tawa
luka...
telah puas aku dicumbunya
dengan segala permainan gila
tawa...
tak pernah malu kumerayunya
walau dengan air mata buaya
Tuhan!
Belum kering air mata ini
bukan hanya karena nista
tapi juga hati berdebu
dan aku adalah sebutir debu yang mudah Kau kibas.
Jakarta, 22 Juni 1999
Si Buta dari Dunia Fantasi
"Si Buta dari Dunia Fantasi"
Dengan tegap lenggang terus melangkah
Sebersit angkuh muncul secercah
Berharap semua mata terpanah
Berdecak harap penuh gairah
Ternyata salah!
dan kalah!
Matanya terpanah
Sebuah jiwa lemah...
Menoleh kanan kiri mencari
Adakah obat penyembuh diri
Satu pemandu yang diberi
hancur lebur tak terperi
Untung ada yang menolong
Hingga tiada sempat melolong
"Oh, mata ini membuta..."
dipenuhi fantasi yang fana
Jakarta, 5 Mei 1999-2022
Cukuplah Allah Bagiku
Cukuplah Allah Bagiku
Bila aku temukan dia
Bukan karena tanpa sengaja
Yang sekiranya menggoyah hati
Dalam dada lemah ini
Bila aku biarkan dia
Bukan karena aku sengaja
Yang sekiranya membuatku lupa
Karena aku insan biasa
Bila aku panggil dia
Bukan karena dia yang pinta
Yang sekiranya harus kuturut
Karena aku tak ingin menuntut
Bila aku inginkan dia
Bukan karena nafsu semata
Yang sekiranya mendominasi
Hasrat di relung hati
Bila aku rindukan dia
Bukan karena rindu biasa
Yang sekiranya selalu ada
Di dada setiap manusia
Bila aku lepaskan dia
Bukan karena sudah tak cinta
Yang sekiranya aku tak suka
Bisa aku lupakan saja
Bila kini aku sendiri
Bukan berarti ini yang kuingini
Karena di dalam tekadku
Cukuplah Allah bagiku!
Kramat Asem, 14 Desember 1997
Sedang Sedih
Semua yang kulihat
Tampak begitu mengkilat
Menghujat ke dalam tatap
Sisakan tombak yang menancap
Hingga semburat darah bersemburan
Penuhi ruang wajah bercemburuan
Semua yang kudengar
Seolah begitu hingar
Memancar ke dalam bingar
Sisakan jerit yang terumbar
Hingga alunan suara bertiupan
Lingkupi ruang rungu bernyanyian
Semua yang kurasa
Bagaikan begitu luka
Merobek ke dalam sukma
Sisakan lara yang mendera
Hingga seutas duka bertemali
Naungi ruang jiwa berkali
Semua yang kuimpi
Ibarat begitu sunyi
Memberi ke dalam sepi
Sisakan melodi yang terhenti
Hingga sedawai kasih memerih
Tandai hati sedang sedih
Jakarta, 14 Februari 1999-2023
Elegi Kelabu

Sang pungguk merindukan bulan
Sang bulan selalu membayang
Rupa dan geraknya
Sejak pandangan pertama
Sang pungguk terus mencoba
Berpikir ia tak henti
Agar dapat terlihat bulan
Walau dengan mencuri
Yang dicari perhatian
Yang timbul malah keraguan
Mungkinkah ia disukai sang bulan?
Sang pungguk dirundung keputusasaan
Saat jumpa
Sang pungguk dan sang bulan
Sang pungguk hanya diam
Malu
Sang pungguk merasa dadanya sesak
Ia pun bertekad bulat
‘kan ia sampaikan isi hatinya
Tiada dengan berpura-pura
Kesempatan itu datang
Mereka hanya berdua
Sang pungguk diam
Malu dan ingin, berpadu
Membuatnya bisu
Kesempatan itu pun berlalu
Dengan sia-sia ….
Jakarta, 14 Desember 1997
Pijar Bara Sesaat
terkapar beku tak tersentuh
Jelaganya yang memburam
mengetuk kalbu ‘tuk membasuh
Bukan dengan air mata
karena beningnya ‘kan ternoda
Bukan dengan tapak terbuka
karena lembutnya ‘kan tertiada
Ambillah bara di dada
percikkan dia di sana
tunggulah letup-letupnya
nantikan pijar-pijarnya
hingga tercipta di sekitarnya
beribu kehangatan dan berjuta cahaya
menelusup menelisik jiwa
menebar memancar raga
sampai pijar yang ada
berubah menjadi bara
mengerang dan mengarang
Mimpi Pasti

Masih dengan samar kuterjaga dari lelapku
Kusapu seluruh ruang dengan pandangan edar
Begitu banyak yang mengerumuniku
berbaris rapih
berputih bersih
Kucoba kenali wajah demi wajah
Tak satupun kukenal
Semua begitu asing menatapiku
tanpa emosi
begitu dingin
Tuhanku! Inikah ajalku?
Mereka menjemputku!
mengajakku tinggalkan maya
penuh paksa...
walau bisu
Jangan! pekikku tercekat
Seulur tangan menyentuh nadi nafasku
Kutepiskan penuh ngeri
Peluhpun mengucur
basahi alas pembaringan....
Jakarta, 20 Februari 1999
Kepada Perempuan Jelita

Darah birumu membuat semua jiwa selalu tunduk
Tajam fikirmu membuat semua rasa harus salut
Elok rupamu membuat semua jaka pasti pana
Santun lakumu membuat semua raga jadi suka
Namun,
darah birumu yang mengalir
tajam fikirmu yang mengukir
elok rupamu yang mendesir
santun lakumu yang menyetir
tiada mampu menentang takdir
hingga,
Kau harus terhempas dalam kemewahan
sebelum terpuruk dalam kepedihan
Dulu,
Kasihmu yang tulus
tiada berbalas
Setiamu yang putih
teramat pedih
Kini,
Kutahu kisahmu
setelah pergimu, Ibu.
Jakarta, 15 Februari 1998
Demi Kasih Ayah
Sebuah
pigura maya
Temui mimpiku yang sunyi…
Kubasuh mukanya
Dengan jemari berlumur luka
Sesaat bayang itu hadir
Putar kembali adegan dulu
Kasihnya padaku
Kalahkan siksa yang mendera
Maafkan, Ayah!
Kasihmu belum berbuah
Bukan tiada berbalas
Walau bukan emas
Untukmu, Ayah!
Kuterima dukaku
Meski tak kusanggupi
Pasti ‘kan bertepi.
Jakarta, 14 Februari 1999
Pengaduanku
Ya, Allah!
Mata ini buta akan kebesaran-Mu
hingga aku buta segala
Telinga ini tuli akan kearifan-Mu
hingga aku tuli segala
Hidung ini hambar akan keharuman-Mu
hingga aku hambar segala
Mulut ini bisu akan keagungan-Mu
hingga aku bisu segala
Tangan ini kaku akan karunia-Mu
hingga aku kaku segala
Kaki ini timpang akan ke hadirat-Mu
hingga aku timpang segala
Hati ini beku akan kasih-Mu
hingga aku beku segala
Ya, Allah!
Mata ini
Telinga ini
Hidung ini
Mulut ini
Tangan ini
Kaki ini
Hati ini
Jangan Kau biarkan mati!
Jakarta, 26 Desember 1998-2022
Lewat Tengah Malam
"Lewat Tengah Malam"
Lewat tengah malam...
Alam sunyi, pun hati
Serangga malam bisu
Sepoi angin rasa beku
dingin merasuk kalbu
Harapku...
Usaikan sepi
Tamatkan duka
Cukupkan perih
Biar rindu menggantikannya
Namun,
jangan biarkan rindu berlarut
Sebab hati rasakan hampa
Terasa beban menghimpit luka
yang terkuak,
dan menganga
Aku rindu
Kutunjukkan inginku
Bukan dengan angkuh
tapi,
dengan harapku
Lewat tengah malam....
Jakarta, 7 Oktober 1997 - 7 November 2022



.jpg)











