Mereka Bilang Saya Teroris

 


"Mereka Bilang Saya Teroris"


        Sebuah sel sempit. Hanya ada sekotak kecil jendela yang mengalirkan terbatas oksigen ke dalamnya. Udara pengap berbaur dengan aroma pesing dan busuk. Seorang tahanan tua duduk bersila. Bibirnya tak henti bergumam. Jemari tangannya yang kaku dan keriput menandai jumlah lafaz yang ia lantunkan. Zikir.

'Brakkk!'

Tiba-tiba terdengar suara pintu membuka. Sang tahanan tua melihat tubuh muda yang didorong ke dalam selnya dengan kasar.

PENJAGA

         ”Kau bisa diskusikan ideologi sintingmu dengan lelaki tua itu! Ha... ha... ha...”

(Sang aparat tertawa mengejek sambil kembali menghempaskan pintu tahanan)

       Hening. Hanya terdengar deru nafas sang tahanan muda. Gumam sang tahanan tua telah terhenti.


TAHANAN TUA

 ”Assalamu’alaikum...”

(Sang tahanan tua memulai pembicaraan. Namun, sang tahanan muda sepertinya belum bisa memulihkan jiwanya yang dalam keadaan tertekan. Ia hanya memandangi sang tahanan tua. Sang tahanan tua tersenyum. Ia memahami keadaan sang tahanan muda)

”Selamat datang, Anak Muda! Beginilah sel untuk kita. Tak ada sinar. Bahkan nyaris tanpa udara. Aroma busuk pun harus menjadi menu sehari-hari karena saluran air itu yang mengalirkan kotoran dari penghuni sel lainnya.”


(Sang tahanan muda mengikuti jari telunjuk sang tahanan tua. Sebuah saluran air dengan lebar sejengkal jemari dewasa dengan kedalaman hanya setengahnya)

TAHANAN MUDA

 ”Sudah berapa lama Bapak di sini?”


(Akhirnya terdengar juga suara sang tahanan muda)


TAHANAN TUA


         ”Aku tidak tahu pasti berapa lama aku di sini. Tanggal dan tahun berapakah sekarang ini?”


(Sang tahanan muda berpikir sejenak. Ia mencoba mengingat-ingat)

TAHANAN MUDA


         ”Seharusnya sekarang tanggal 20 September 2018...”


TAHANAN TUA


         ”Ah... sudah delapan tahun sepertinya. Aku ditangkap sebulan setelah di kampungku usai menyambut kemerdekaan negeri ini. Aku merasa sudah sangat lama di sini. Kurasakan tubuhku sudah lekas menua. Pandanganku semakin kabur. Bukan saja karena aku tidak pernah mendapat cahaya. Pukulan dan siksaan sudah menjadi santapan rutinku di sel ini. Setiap pertanyaan yang mereka ajukan selalu terjawab salah sehingga berhadiah bogem mentah.”


(Sang tahanan muda baru menyadari bahwa lelaki tua di hadapannya sudah tidak memiliki pandangan yang sempurna. Tubuhnya ringkih seolah tinggal tulang berbalut kulit. Bilur-bilur hitam bekas siksaan menanda di berbagai bagian tubuhnya)


         ”Mengapa kau sampai di sini, Anak Muda?”


TAHANAN MUDA


         ”Mereka bilang saya teroris, Pak...”


TAHANAN TUA


         ”Apakah kau memang seperti yang mereka tuduhkan?”


(Sang tahanan tua bertanya tanpa bermaksud meyelidik)


TAHANAN MUDA


         ”Ya!”

(Sang tahanan tua terkejut. Ia merasakan ada hentakan dalam jawaban sang tahanan muda)


TAHANAN TUA


         ”Mengapa kau melakukannya?”


TAHANAN MUDA


         ”Saya mendendam, Pak. Ayah saya ditangkap dan diberitakan sebagai teroris. Padahal ia hanya seorang guru mengaji. Saya adalah anak sekaligus muridnya. Saya tahu pasti bahwa ayah saya bukan teroris!”


TAHANAN TUA


         ”Lalu mengapa sekarang kau justru menjadi teroris?”


TAHANAN MUDA


         ”Menjadi apa pun asal dapat membalaskan dendam saya akan saya lakukan. Saya seorang teroris bagi mereka yang sudah menghancurkan keluarga saya. Selama ini tak ada ruang bagi kami untuk membela diri. Ayah menghilang diiringi fitnahan sebagai teroris. Ibu kesulitan mendapatkan pekerjaan karena statusnya sebagai ’istri teroris’. Kami hidup dalam cibiran dan lirikan kecurigaan. Mereka bukan saja menculik ayah. Mereka telah merenggut hidup dan masa depan keluarga kami!”


TAHANAN TUA


         ”Bagaimana keadaan ibumu sekarang?”


TAHANAN MUDA


         ”Ibu sakit-sakitan setelah itu. Tanpa pengobatan yang layak, ajal pun menjemputnya dua tahun yang lalu...”


(Suasana kembali hening. Ada yang mulai terjalin di ingatan sang tahanan tua. Tiba-tiba sang tahanan muda menyadari kalau sekarang adalah gilirannya untuk mengetahui siapa lelaki tua itu)


         ”Bapak sendiri, mengapa bisa berada di sini?”


TAHANAN TUA


         ”Aku tidak tahu. Aku dijemput orang-orang berpakaian seragam saat ingin menjalankan sholat Subuh di mushola dekat rumah. Kejadian itu tanpa sepengetahuan keluargaku. Sejak saat itu aku tak pernah bertemu istri dan anakku.”

TAHANAN MUDA


         ”Bapak tinggal di mana?”


(Ada yang mulai mengusik isi dada sang tahanan muda)


TAHANAN TUA


         ”Di Desa Tanjung Katung.”


TAHANAN MUDA


         ”Apakah Bapak bernama Ismail Ghozali?”


TAHANAN TUA


         ”Ya, namaku Ismail Ghozali.”


(Sang tahanan muda serta-merta menghambur dan memeluk sang tahanan tua)

TAHANAN MUDA


         ”Ayah! Aku Harun Ismail, anakmu!”


TAHANAN TUA


         ”Harun...”

(Sang tahanan tua balas memeluk sang tahanan muda. Mereka menangis dan tertawa bersamaan. Ada kegetiran ketika menyadari bahwa mereka harus berjumpa di tempat seperti ini. Ada kebahagiaan saat mengetahui bahwa Sang Maha Pengasih mempersatukan mereka setelah sewindu menanggung rindu)

SELESAI


Jakarta, 12 Maret 2011-31 Desember 2023

Kado Ulang Tahun


Sabtu, 18 Desember 2010

Subhanallah, tidak terasa kemungkinan lebih dari separo jatah hidupku sudah kunikmati di dunia ini. Ada beberapa ucapan selamat yang terlantunkan. Terima kasih. Semoga harapan dan doa Anda semua dikabulkan Allah.

Dulu, dua puluh tahunan yang lalu, di tengah kesederhanaan keluarga, saat berulang tahun adalah saat yang ditunggu-tunggu. Bapak (Allahyarham) biasanya memberikan hadiah berupa Chiki Snack, Taro Snack, dan Yoyo Snack yang merupakan jajanan kegemaranku. Sebelum dinikmati, jajanan tersebut didoakan dulu oleh Bapak. Sering tidak sabar menunggunya. Namun, belakangan baru aku sadar. Kado utama ulang tahunku adalah doa Bapak. Ketiga jenis jajanan favoritku cuma kado tambahan.

Tahun ini, selain ucapan doa dari teman-teman aku mendapatkan kado yang istimewa, hikmah kehilangan. Mau tahu ceritanya? Begini:

Jumat, 17 Desember 2010 pukul 16.00 WIB tiba di rumah sepulang dari sekolah. Di depan pintu yang terkunci aku hanya bisa mematung. Rangkaian kunci yang biasanya tergantung di ban pinggang celanaku tidak ada! Bagaimana bisa? Selama ini beberapa teman menyebutku seperti satpam dengan menggantungkan kunci-kunci di ban pinggang celana sebagai usaha preventifku. Koq, bisa hilang ya?

Aku langsung konfirmasi kepada pemilik kontrakan. Aduh! Beliau tidak memiliki cadangannya... Kutelefon kakakku yang aku titipkan duplikat kunci rumah. Dia masih memberi privat di Mangga Besar dan baru pulang pukul 21.00 WIB. Akhirnya kuhubungi teman dekatku yang berbeda RW. Alhamdulillah ada di rumah, baru pulang kerja. Jadilah aku menumpang mandi, makan, istirahat, sambil menunggu di rumah temanku sampai pukul 21.00 WIB.

Sabtu, 18 Desember 2010. Tiga puluh empat tahun dari Sabtu, 18 Desember 1976 yang lalu. Pagi-pagi langsung ke sekolah disambut Pak Satpam dengan ramah. Kutanyakan keberadaan kunciku, barangkali terjatuh di sekolah. Ternyata ada! Alhamdulillah... kuciumi kunci-kunci itu.

Ya, Allah! Aku diuji kehilangan kunci semalaman saja sudah begitu resah. Padahal setiap insan yang beriman seharusnya memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi selalu ada hikmahnya. Termasuk kehilangan kunci rumah itu. Betapa aku yang sudah sedemikian 'teliti' dalam membawa kunci ternyata ketika Allah berkehendak 'hilang' maka sudah meluluhkan sendi-sendi semangatku. Ya! Sekuat apa pun manusia menjaga miliknya, tetap Allah yang menentukan kisahnya. Termasuk nyawa kita...

Thanks God! Matur nuwun sanget kangge Masku (Roy), kancaku (Nur), Trio security SMA Negeri 72 Jakarta, karo someone yang sudah menemukan dan menitipkan kunciku ke pos satpam. Thanks for all... Semoga Allah membalas segala kebaikan Anda semua, tentunya dengan berlipat ganda. Aaaamiin!

Pusara

 


Tadi siang banyak yang dikubur
satu... dua... dan tiga
Hmmm...
Mungkin lebih dari itu
Bauran bunga dan tanah basah menghembus tajam
menandakannya

Aku terpekur menatap nanap...
Julangan pusara yang tertancap
bangkitkanku dari tidur yang lelap
Aku terkesiap
Betapa waktu yang lindap
melenakanku dalam jutaan harap

Kembali mata ini menanap
ke barisan pusara yang menjulang
Satu di antaranya, kusimpuhi
Dalam nisan tergores sebuah nama
orang yang seharusnya kukasihi
tapi telah pergi

Aku jadi ingat...
Harusnya banyak pusara yang menghujat
Bukan hanya pusara itu
yang memiliki rasa rindu
padaku
pada doaku

Dengan saat yang singkat
kuhendak tinggalkan barisan pusara
Kembali kuhitung yang mau dikubur
satu... dua... dan...
Hmmm...
Hilang satu

Kucari jejak yang menanda
tapi tiada....

ditulis di Jakarta, 25 November 1997

Jakarta, Senin, 26 November 2023

Selamat Ulang Tahun, Guru


Hari ini, 25 November 2010, para guru merayakan hari lahirnya yang ke-65 tahun. Begitu banyak yang perlu diperbaiki. Betapa banyak yang masih harus dikerjakan. Berbagai kalangan pun teramat mendambakan kehadirannya yang lebih berarti.

Guru. Sosok yang seharusnya dihormati dan diteladani. Dahulu ia begitu dibanggakan. Sampai-sampai negeri jiran Malaysia pun mengharapkan bantuan tenaga para guru Indonesia.

Guru. Dahulu profesi ini begitu dipandang sebelah mata. Begitu berbicara tentang guru, maka yang terlintas adalah sosok pengabdi yang di tengah himpitan ekonomi terus berusaha mencerdaskan putra bangsa. Di satu sisi banyak masyarakat prihatin dengan penghasilannya. Di sisi lain justru banyak pula masyarakat yang menghormati kebersahajaannya.

Guru. Kini ia sebuah profesi yang menjadi incaran berjuta anak bangsa. Tentu saja dengan beragam motivasi.

Guru. Enam puluh lima tahun usiamu kini. Masa seharusnya engkau beristirahat dari keletihan dan kepenatan profesi.

Namun, dapatkah engkau beristirahat begitu saja. Masih teramat banyak pasang mata yang belum mampu menerjemahkan aksara. Masih teramat banyak pasang telinga yang belum terbiasa menyimak denting suara. Masih teramat banyak lubang wicara yang belum terbiasa bertutur dengan penuh krama. Masih teramat banyak pasang tangan yang belum terbiasa menghasilkan karya. Masih terlalu banyak pasang kaki yang belum terbiasa melangkah menjemput rezeki. Dan... masih terlampau banyak jiwa yang belum terbiasa merasa peka dengan berbagai nestapa.

Hidup adalah Cerita

 


"Hidup adalah Cerita"


Beruntun cerita bahagia mengalir
hingga diri lupa segala
hidup bukan hanya tertawa
mesti ada luka yang mengukir

            setelah cinta
            disusul senyum bahagia
            semua menduga
            'kan berakhir cerita

nyatanya salah
benar-benar salah
karena cerita belum berakhir

            harus ada luka
            kalau ada suka
            karena hidup adalah cerita

Jakarta, 22 Oktober 2000-2023

Hitampun Memutih

 


sajak buat Bapak

Tatkala harus Kau lalui lembar-lembar hitam
tiada pernah terlintas olehmu untuk menggantikannya
dengan yang putih

Terasa apa yang Kau jalani
akan semakin hitam
dan mengelam

Ketika Kau dapati dirinya yang terluka
fitrahmu tergugah untuk mengobatinya
menjadikannya lebih berarti
walau harus Kau hadapi banyak duri yang menanti

Meski tiada lama Kau menemani
Kau ikhlaskan kepergiannya
menuju alam bahagia
yang sejati

Tegarmu sebagai laki-laki
membuatmu tiada pernah berpaling
biar hasrat terus menyusup
Kau tepis penuh adab

Hingga Kau menyusulnya
menuju alam kebahagiaan
setelah Kau torehkan tinta emas kebajikan
dalam sisa lembar hidupmu yang putih.


"Allahumaghfirlahu..."


Jakarta, 21 September 1995-2023

Ketika Mimpi Indah Ayah Menjadi Mimpi Buruk Anak

 


Ketika Mimpi Indah Ayah

Menjadi Mimpi Buruk Anak

 

Judul Film : Swimming Upstream
Sutradara : Russel Mulcahy
Pemain : Jesse Spencer, Geoffrey Rush, Judy Davis, Tim Draxl
Jenis Film : Drama
Kategori : Dewasa

Tahun : 2003


          Anthony Fingleton merupakan anak kedua dari pasangan Harold dan Dora. Harold Jr adalah kakaknya yang selalu menyakitinya, mulai dari fisik hingga psikis. Parahnya, tindakan ini justru didukung oleh sang ayah. John adalah adiknya yang paling dekat secara emosional saat itu. Ronald anak lelaki keempat dan si bungsu sekaligus putri satu-satunya dari keluarga yang hobi berenang ini, Diane.

Kedekatan Tony dan John yang semula rapat berubah secara perlahan. Lagi-lagi sang ayah yang menjadi penyebabnya. Tony dan John yang semula memiliki spesialisasi gaya yang berbeda dalam renang terpaksa berkompetisi dalam satu kolam. Mereka berlatih secara mandiri. Namun, secara diam-diam sang ayah justru melatih John. Hasilnya; John menjadi juara.

Tony merasa sakit hati. Bukan karena kekalahannya, tetapi lebih disebabkan oleh John yang mengambil gaya punggung atas permintaan ayahnya. Apalagi sang ayah ternyata lebih berharap kemenangan untuk John.

Konflik demi konflik terus bergulir. Antara ayah dengan ibu. Antara ayah dengan anak-anaknya, khususnya Tony. Juga antara Tony dengan John.

Swimming Upstream, sebuah film drama keluarga yang diangkat dari kisah nyata Anthony Fingleton sangat memikat. Sebuah gambaran sosok ayah yang kecewa dengan masa lalunya dan mencoba menggapainya melalui anak-anaknya. Kekecewaannya di masa kanak-kanak coba ia tebus dengan memaksa anak-anaknya untuk berprestasi, khususnya di bidang olah raga. Tema yang sangat menyentuh tentang hubungan antaranggota keluarga. Sangat realistis karena diambil dari kisah nyata.

Sayangnya, hingga film berakhir penulis tidak berhasil menangkap dengan jelas alasan mengapa sang ayah begitu membenci Tony. Padahal terhadap Harold Jr. dan John ia sangat berharap. Apakah kecenderungan Tony pada seni (musik)? Akhir cerita juga ’mengenaskan’. Tony dan tiga saudaranya menjadi sosok yang berhasil tetapi John, yang sebenarnya menjadi tumbal sang ayah, justru harus merasakan penderitaan. Apalagi hubungan antara Tony dengan John masih menegang. Nah, barangkali jika Anda sudah menontonnya, Anda akan mampu menangkapnya?

***

Diunggah ulang pada Ahad, 20 Agustus 2023

Malam yang Mencekam

  

"Malam yang Mencekam"


Sebenarnya hal ini bukan kali pertama yang ia alami. Ia harus di rumah seorang diri. Ayah dan ibunya sejak sore pergi menghadiri sebuah resepsi pernikahan seorang kerabat. Mereka baru akan kembali sekitar pukul sepuluh malam nanti. Kedua orang kakaknya pun pergi sejak sore. Kakaknya yang laki-laki pergi ke rumah teman wanitanya. Adapun kakak perempuannya pergi ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas perkuliahannya. Ia sudah berpesan akan menginap.


Untuk menghilangkan rasa sepi ia mencoba menonton televisi. Dari beberapa acara yang ditayangkan berbagai stasiun televisi, tidak ada satu pun yang menarik baginya. Stasiun yang pertama menyajikan berita tentang bisnis dan perekonomian yang tidak sesuai dengan jiwa remajanya. Beberapa stasiun lainnya menampilkan sinetron-sinetron yang sangat membosankan. Jalan cerita yang nyaris sama dengan perputaran yang tak tentu arah. Selebihnya masih saja menayangkan film Barat maupun Mandarin untuk ke sekian kalinya. Ia bahkan sudah hafal jalan ceritanya.

Ia beralih ke radio. Semakin kesal hatinya mendengarkan obrolan para penyiar radio. Ia putar koleksi CD musiknya. Agak terhibur meskipun sedikit. Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada sebuah novel yang tergeletak di atas koleksi kaset kakaknya yang laki-laki. Malam yang Mencekam judulnya.

Novel itu menceritakan pembunuhan yang dilakukan seorang pemuda berandal kepada seorang gadis remaja yang kebetulan sedang seorang diri di rumahnya. Kedua orang tuanya pergi menghadiri resepsi pernikahan seorang kerabat mereka. Ketika kembali sekitar pukul sepuluh malam, mereka mendapati anak gadisnya tergolek di atas sofa. Di lehernya tergambar bekas cekikan. Pakaiannya yang koyak menunjukkan apa yang menyebabkan di kedua selangkangannya mengalir darah.

Tidak sampai satu jam novel itu selesai dibacanya. Ia merasa tidak puas dengan jalan cerita novel tersebut. Menurutnya, gadis remaja itu terlalu bodoh sehingga tidak bisa membedakan suara kakak laki-lakinya yang baru pulang dari rumah teman wanitanya dengan suara berandalan yang akan memperkosa dan membunuhnya. Begitu juga dengan cara pemuda berandal itu masuk ke rumahnya. Naif sekali membukakan pintu dan membiarkannya terbuka tanpa melihat siapa yang mengetuk pintu tersebut.

“Oahem…” Ia menjadi mengantuk. Ia tetap merebahkan dirinya di atas sofa dan membiarkan novel tadi tergeletak di sampingnya. Tak ada niat untuk mengembalikannya ke tempat semula.

Sesaat kemudian ia mendengar sayup-sayup suara ketukan di pintu. Dengan langkah malas dan perasaan kesal ia menuju pintu.

“Kebiasaan! Setiap malam pacaran terus,” makinya dalam hati.

“Heh, cepat buka pintunya!” terdengar teriakan dari luar yang semakin membuatnya kesal. Ia pun langsung membuka kunci pintu dan tanpa membuka daun pintu ia sudah berbalik hendak menuju kamarnya.

Ia terus melangkah dan menduga tidak lama lagi kakaknya akan mengejeknya sebagai si tukang tidur. Namun, ia sudah siap membalas ejekan itu. Ia menunggu beberapa detik. Heran, kakaknya tidak bersuara lagi. Ia pun menoleh. Betapa terkejut dirinya memandang apa yang dilihatnya.

Daun pintu rumahnya telah terbuka. Namun, lelaki yang berada di hadapannya bukan kakaknya. Bahkan, ia tak mengenalinya sama sekali. Ia sadar dirinya dalam bahaya. Ia ingin berteriak. Tidak ada suara yang didengarnya. Ia justru merasakan tangan kekar lelaki yang tak dikenalnya itu sudah menekan erat nadi lehernya. Saking eratnya, membuat dirinya tak lagi bernafas.

THE END

diunggah kembali 30 Juli 2023

Aneka Anekdot


"Lupa! Lupa... Lupa... Lupa..."

Saya punya beberapa akun Gmail. Passwordnya beda-beda. Supaya tidak lupa, kemarin saya tulis di sebuah buku. Permasalahannya sekarang, di buku yang mana? Saya lupa...
😂
*Subhanallah...
Jakarta, 28 Juni 2021

"Buku Tabungan"

Beberapa waktu lalu ke Bank DKI untuk aktivasi Jakone.
"Bawa buku tabungannya, Pak?" tanya petugas bank dengan ramah.
"Bawa." Dengan percaya diri saya serahkan buku tabungan yang saya bawa.
"Ini buku tabungan BNI, Pak." ucapan petugas bank membuatku terkejut.
"Astaghfirullah..."
😣

"Salah Kartu"

Kemarin dari Menara Samawa naik Mini Trans. Aku membayar ongkos dengan menempelkan kartu Jak Lingko.
'Cricit... Cricit...' Error. Kartu tidak terbaca.
"Tangan jangan menempel, Pak." kata Pak Sopir. Ok, aku harus lebih berhati-hati.
'Cricit... Cricit...' Masih belum bisa.
"Tunggu agak lama. Baru tempel lagi." Sambil menunggu kuperhatikan kartu di tanganku. Waduh, ini kartu akses lift BUKAN kartu Jak Lingko!
"Maaf, Pak. Salah kartu."
😥
*Subhanallah...


"Paket Internet"

Hari ini paket internet Simpati-ku habis. Aku mengisi paket internet via Tokopedia. Sudah. Tapi kok, belum bisa online juga, ya?
Ya, Salaam... Yang aku isi nomor kartu XL-ku!
🤣
*Jadi, hikmah dari cerita di atas adalah...
Jakarta, 12 Maret 2021


"Rezeki Nomplok"
Sesampai di mulut gang sehabis membeli sarapan, tiba-tiba seperti ada yang menetes di antara leher dan pundak kiriku. Hangat. Kucolek, putih... Kutengadah ke atas. Sepasang burung gereja bercengkrama di seutas kabel. Ya, Allah... Bumi-Mu luas. Gang ini pun cukup lebar. Mengapa cairan itu harus jatuh di pundakku? Tidak di tempat lain.
Akh, inilah rezeki nomplok!
Aamiin.
Jakarta, 31 Maret 2021


"Vitamin C"

"Vitamin C-nya apa?" tanya dokter saat aku diperiksa terkait hipertensiku.
"Nutrisari" jawabku polos.
"Nutrisari itu apa?" pertanyaan sang dokter membuatku terkejut.
😨
*Jangan-jangan nggak recommended...
Jakarta, 24 Maret 2021


"Keringat Dingin"

Lampu teras mati. Dengan meminjam tangga pemilik rumah kontrakan aku mencoba menggantinya dengan yang baru. Heran, kenapa tangganya bergetar. Keringatpun mengucur deras. Saking derasnya, keringat yang keluar lebih deras saat ganti lampu dengan naik tangga aluminium daripada jalan sore setengah jam.
😅
*Kok, bisa gitu, ya...?
Jakarta, 19 Maret 2021


Harakiri

 


Untuk Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Baru kini kutahu pasti
Mengapa UN menjegal belasan anak kami
Ternyata mereka memang layak untuk itu

Dari mana kutahu?
Baru lima belas menit soal dibagi
Mereka sudah terbengong-bengong menanti-nanti!
Apa yang mereka nanti?

Ho… ho… baru kini kutahu pasti
Mereka menanti guru mereka yang telah berjanji mengumbar kunci
Guru mereka yang merasa bak pahlawan seperti Panji

Baru kini kutahu pasti
Mengapa UN menjegal belasan anak kami

Ternyata guru mereka juga masih perlu diuji
Sebab kunci yang mereka beri masih harus direvisi
Lima puluh nomor yang sudah dibulatkan
Lima puluh nomor yang harus diperbaiki

Wahai Guru!
Jangan pernah merasa menjadi pahlawan tanpa tanda jasa
Jika muridmu masih kauracuni dengan kebodohanmu yang memalukan dan memilukan itu
Carilah sebilah pedang!
Tancapkan ke dadamu!
Itu masih lebih terhormat bagimu
Dibandingkan kauracuni berjuta anak bangsa dengan sikapmu yang berjuta tapi

dari sebuah ruang ujian Paket C
Jakarta, Kamis 25 Juni 2009

Ahad, 25 Juni 2023

Aku Sebutir Debu


Tuhan!
Air mata ini masih mengalir
bukan hanya karena luka
tapi juga andil tawa

luka...
telah puas aku dicumbunya
dengan segala permainan gila

tawa...
tak pernah malu kumerayunya
walau dengan air mata buaya

Tuhan!
Belum kering air mata ini
bukan hanya karena nista
tapi juga hati berdebu

dan aku adalah sebutir debu yang mudah Kau kibas.

Jakarta, 22 Juni 1999

Belajar dari Kearifan Pribumi


Belajar dari Kearifan Pribumi

 

Judul Buku : Pelangi Nurani

Penulis : Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa

Penerbit: PT Syaamil Cipta Media

Tahun : Februari, 2002

Tebal : 144 halaman


         Sebuah buku inspiratif berisikan 32 kisah nyata yang ditulis ulang oleh kakak-adik pendekar sastra Islami, Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa. Isi buku ini diklasifikasikan atas enam tema, yaitu Tentang Cinta dan Pengorbanan, Tentang Makna dan Pengajaran, Tentang Sudut Pandang, Tentang Perhatian dan Persahabatan, Tentang Sikap, dan Tentang Sakit dan Kematian. Hal ini tentu saja memudahkan pembaca untuk memilih kisah mana yang ingin dibaca terlebih dulu. Hampir seluruh kisah dapat menyentuh hati. Kisah yang paling menyentuh antara lain adalah “Untuk Adik-Adik di Rumah”, “Sumbangan”, dan “Pelajaran Berharga”. Namun, kisah yang lain pun tidak bisa dilewatkan begitu saja. Apalagi setiap kisah umumnya berlangsung singkat sehingga tidak terlalu memakan waktu untuk menemukan hikmah di dalamnya.

Buku ini ibarat tetes embun yang dibutuhkan manusia Indonesia, khususnya umat Islam, saat ini. Begitu banyak kisah inspiratif yang dapat kita baca, tetapi yang bernuansa lokal dengan corak Islami barangkali masih sedikit. Buku ini sebenarnya dapat mengobati kerinduan kita akan motivasi-motivasi yang lebih realistis dan membumi. Buku ini mampu menguras air mata tanpa diminta. Sayangnya pengemasannya terlalu ‘ala kadarnya’.

Saat pertama kali menemukan buku ini di toko buku, peresensi mendapatkannya di lemari bagian bawah bercampur dengan buku-buku dengan kemasan tidak menarik lainnya. Harganya juga cukup murah untuk saat itu (22 Oktober 2003), yaitu Rp. 18.500. Satu hal yang sekiranya dapat dipertimbangkan oleh penerbit untuk mencetak ulang dengan kemasan yang lebih pantas untuk buku berbobot ini.


Miniatur Orang Indonesia

  

"Miniatur Orang Indonesia"

Judul Buku : Orang-Orang Proyek
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia

(Sebuah Ulasan terhadap Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari)

            Membaca novel berlatar waktu antara tahun 1991-1992 dengan setting sebuah desa di Pulau Jawa ini tidak ubahnya membaca kehidupan manusia Indonesia secara utuh. Sebagian besar masyarakat yang cenderung pragmatis, mengikuti arus kebanyakan. Mencoba realistis, dalih mereka. Adapun mereka yang tetap mengusung idealisme sangatlah sedikit. Dari yang sedikit ini pun banyak yang masih terlihat gamang dengan sikap yang mereka ambil.

            Ahmad Tohari memotret kegamangan tersebut. Betapa tidak sedikit mereka yang sebelumnya pengusung bendera idealisme berubah menjadi pengabdi pragmatisme. Atau paling tidak, terseret arusnya yang memang mahadahsyat. Bukan berita baru bahwa seorang mahasiswa mantan aktivis langsung berubah seratus delapan puluh derajat menjadi manusia pasivis saat ia berada dalam lingkaran kekuasaan.

            Beragam argumentasi lalu muncul untuk pembenaran fenomena tersebut. Dominasi orang-orang yang pro-status quo dianggap masih terlalu menggurita. Mustahil bagi si bayi reformis menaklukkannya. Keadaan yang ternyata terlihat sangat berbeda ketika dipandang dari sudut pandang yang berbeda pula. Menjadi pemimpin tidaklah semudah menjadi orang yang dipimpin. Menjadi penulis pun tidaklah semudah menjadi seorang pembaca. Ya, menjadi pemain memang tidaklah semudah menjadi seorang penonton!

            Tak jarang kritikan yang diberikan pada mereka berubah menjadi bumerang. Para pengritik ini pun akan balas dituduh sebagai orang yang iri hati, barisan orang sakit hati, ataupun penderita post power syndrome. Tidak sepenuhnya benar tuduhan tersebut. Namun, itu juga berarti tidak sepenuhnya salah.

            Melalui novel Orang-Orang Proyek Ahmad Tohari mengungkap realitas tersebut. Tokoh-tokoh seperti Kabul, Pak Tarya, Basar, Dalkijo, dan yang lainnya ia munculkan sebagai pantulan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Dan, berbicara tentang orang-orang proyek berarti kita juga berbicara tentang orang-orang Indonesia dari segala profesi: insinyur, politisi, dokter, pegawai negeri, kepala desa, mahasiswa, guru dan lainnya.

Kabul: Sebuah Pertarungan antara Idealisme dengan Pragmatisme
            Insinyur muda ini merupakan tokoh sentral dalam cerita. Alumnus sebuah Fakultas Teknik ini termasuk aktivis yang idealis. Masa perkuliahannya diwarnai dengan bermacam kegiatan demonstrasi dan diskusi. Sayang, perjuangannya tidak berlangsung mulus. Karena faktor ekonomi, ia lebih cenderung bekerja untuk menghidupi ibu dan kedua adiknya daripada melanjutkan dua aktivitas tersebut. Namun, idealisme yang ia miliki tidak berubah.

            Setelah beberapa kali menjadi pelaksana proyek pembangunan, ia dihadapkan pada kenyataan pahit. Idealismenya berbenturan dengan pragmatisme bosnya, yang juga kakak angkatannya semasa kuliah. Perihnya lagi, ia juga harus menyaksikan sendiri bagaimana polah tingkah mereka dalam menguras harta negara yang notabene juga harta rakyat. Semua berlangsung di depan mata. Berbagai usahanya untuk menyadarkan oknum-oknum tersebut menemui jalan buntu. Ia terpaksa memilih, tetap berada di lingkaran tersebut dengan konsekwensi kerap mengelus dada atau keluar dari sana dengan risiko yang tidak minimal.

Pak Tarya: Setelah Lengser Keprabon …
            Si Ahli Pemancing yang mahir meniup seruling ini merupakan pensiunan pegawai Kantor Penerangan. Mantan wartawan juga, katanya. Ayahnya mati dibunuh para patriot muda di desanya. Hebatnya, ia mampu menghapus dendamnya pada pembunuh ayahnya.

            Di usia tuanya ia menjadi manusia yang sangat arif. Ia yang memang sejak kecil dibesarkan di suasana pedesaan sangat karib dengan alam. Ia tetap menjadi orang yang nrimo. Bukan saja menerima kenyataan bahwa sebagai pensiunan pegawai ia tidak dapat hidup lebih dari cukup untuk isteri dan kedua anaknya, tetapi juga menerima dengan senyuman untuk impotensi yang dideritanya.

Basar: Realitas Mantan Aktivis dalam Pemerintahan
      Sahabat Kabul ini seorang Kepala Desa di tempat Kabul menjalankan proyek terakhirnya. Mantan mahasiswa Fakultas Sospol yang juga aktivis ini bercita-cita mengabdikan diri pada masyarakat. Ia jenuh melihat kondisi masyarakat di desanya yang serba terbelakang.

            Apa lacur? Cita-cita tinggallah cita-cita. Realita berbicara lain. Seorang Kepala Desa memang pemimpin masyarakat di desanya. Namun, ada yang terlupakan olehnya bahwa di negara ini Kepala Desa hanyalah kaki tangan penguasa di atasnya. Beberapa tingkatan malah. Yang terjadi bukannya ia mengabdi kepada rakyatnya tetapi justru ia harus memaksa rakyatnya untuk memenuhi segala keinginan para penguasa di atasnya. Ironis!

Dalkijo: Si Orang Kaya Baru (OKB)
            Kakak angkatan Kabul semasa kuliah di Fakultas Teknik ini merupakan Bos di proyek tempat Kabul bekerja. Kemiskinan yang dideritanya secara turun temurun menumbuhkan dendam di hatinya. Ia raup dari mana pun pundi-pundi harta dapat ia kumpulkan. Ia jemu dengan kemiskinan. Ia buktikan bahwa kemiskinan telah terputus dari kehidupannya dan keluarganya. Ia balaskan dendamnya itu. Entah kepada siapa! Satu kalimat yang ia sampaikan di depan Kabul membuktikan betapa pragmatisnya dia: “Pijaklah bumi dan lihatlah sekeliling”. (halaman 27)

Wati: Refleksi Perempuan Indonesia Modern?
            Gadis ini merupakan penulis kantor proyek Kabul. Anak salah seorang anggota DPRD. Di usianya yang kedua puluh tiga ia gamang dengan statusnya. Kekasihnya belum juga menikahinya. Hingga datang Kabul dalam hidupnya.

            Insinyur muda bujangan itu menarik hatinya. Sebagai perempuan ia tak sungkan untuk menunjukkan rasa sukanya pada lelaki itu. Sebagian usahanya terkesan ofensif. Seorang Kabul yang awalnya mengabaikan kehadirannya pun akhirnya jatuh dalam daya magnitnya.

Mak Sumeh: Sang Mak Comblang
            Wanita pemilik beberapa warung Tegal ini berperan besar dalam kehidupan asmara Kabul. Ia yang menjadi tempat Wati mencurahkan hatinya. Wanita yang sangat bangga dengan pengalamannya sebagai perempuan. Kalau diperhatikan, sebenarnya Mak Sumeh ini juga salah satu korban pembangunan yang lebih mengedepankan fisik semata. Sikapnya permisif sekali. Tak terkecuali terhadap hal-hal yang sebelumnya dianggap tabu.

Biyung: Perempuan Perkasa dari Desa

            Orang tua perempuan Kabul ini memberikan kontribusi yang besar dalam terbentuknya seorang Kabul yang idealis. Kemiskinan yang dialami membuatnya menjadi ibu sekaligus guru kehidupan bagi anak-anaknya. Kebersahajaan yang ia tanamkan kepada mereka berbuah dengan keberhasilan ketiga anaknya dalam menyelesaikan perkuliahan. Sebuah kemenangan yang diperoleh dengan perjuangan yang sangat panjang.

            Meskipun beberapa tokoh perempuan yang dihadirkan kurang bersentuhan dengan idealisme, tetapi kehadiran tokoh ini setidaknya menghapus kesan bahwa pria penulis novel Indonesia cenderung patriarkat. Seorang ibu tetap sangat berperan dalam perkembangan kejiwaan sang anak sejak kecil hingga dewasa kelak.

Kang Martasatang: Korban Pembangunan
            Tak bisa dimungkiri bahwa setiap pembangunan membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan sudah dapat dipastikan harus berasal dari masyarakat golongan bawah. Kang Martasatang berprofesi sebagai penyeberang sungai. Bermodalkan rakit sederhana ia memanfaatkan rusaknya jembatan di Sungai Cibawor. Namun, adanya pembangunan jembatan membuatnya harus melepaskan pekerjaannya itu. Entah apa yang kemudian akan dijadikannya sebagai pekerjaan. Yang jelas bukan hanya para penguasa yang tidak peduli pada nasibnya. Masyarakat lainnya yang merasa diuntungkan dengan kehadiran jembatan tersebut pun pastinya beranggapan bahwa apa yang dialami Kang Martasatang adalah memang sudah seharusnya.

Wircumplung: Warisan Nenek Moyang yang Bernama Takhayul

        Dialah yang menghasut Kang Martasatang untuk meminta pembongkaran pembangunan jembatan. Hilangnya Sawin, anak Kang Martasatang yang bekerja sebagai kuli di proyek jembatan, ia jadikan sebagai sekam yang mudah terbakar. Apinya adalah kepercayaan mereka terhadap hal-hal yang masih berbau takhayul. Ia meyakinkan Kang Martasatang bahwa Sawin hilang karena sudah dikorbankan sebagai tumbal proyek tersebut. Warisan berupa animisme yang belum juga tergilas oleh roda pembangunan.

Daripan alias Tante Ana: Aktualisasi Seorang Kaum Marginal
            Rasanya bukan hanya media televisi yang menjadikan kaum waria sebagai objek hiburan. Dalam kehidupan nyata masyarakat kita pun memperlakukannya demikian. Jika disebut kaum marginal yang satu ini yang terlintas di benak kita pasti kelucuan, kekonyolan, kegenitan, dan kata-kata lain yang berkonotasi kurang menyenangkan. Tanpa masyarakat ketahui bagaimana perasaan sang objek.

        Daripan, sang waria hadir sebagai salah satu tokoh penghibur di novel ini. Kehadirannya ditunggu-tunggu para pekerja proyek yang telah lelah bekerja. Ia tak mengharapkan imbalan berlebihan kecuali pengakuan, bahwa di dalam tubuh lelakinya ia adalah seorang perempuan. Sayang, Ahmad Tohari kurang mengekspos psikologis tokoh ini. Sehingga yang muncul adalah kesan bahwa waria sudah cukup bahagia hanya dengan dielu-elukan, diberikan tepuk tangan, dijadikan objek hiburan.

Bejo: Wajah Buram Generasi Muda
            Sosok remaja desa yang multikrisis. Kehilangan masa muda, masa belajar, hanya untuk menyambung hidup sebagai kuli proyek. Ia rela menjadi ‘pembahagia’ Daripan alias Tante Ana. Ia adalah orang yang paling antusias dengan kehadiran waria itu. Apakah ia mengalami krisis orientasi seksual sehingga mau menjadi ‘sasaran’ Tante Ana? Rasanya ketika kita mengaitkannya dengan masalah ekonomi tidaklah salah. Mungkin ia tidak percaya diri dengan keadaannya untuk mencari pasangan perempuan. Sehingga kehadiran Tante Ana dapat dianggap sebagai manifestasi dari tak ada rotan akar pun jadi.

Wiyoso-Aminah: Sepenggal Roman Picisan
            Kalau mau dikatakan tokoh yang tidak penting kehadirannya dalam novel ini adalah pasangan ini. Meskipun awal kemunculan mereka secara individu, tetapi akhirnya mereka dijadikan pasangan. Wiyoso alias Yos sebenarnya pacar Wati. Namun, karena masih kuliah ia menunda pernikahannya dengan Wati. Ketika Wati memutuskan hubungan mereka ia bertemu Aminah, adik perempuan Kabul. Mereka ternyata kuliah di kota yang sama, Yogya.

            Sosok Yos yang hanya seorang mahasiswa belum lulus masih sangat labil. Sepertinya terlalu mudah bagi seorang Kabul, insinyur muda penuh idealisme, dalam ‘mengalahkannya’ merebut hati wanita. Meskipun cinta di novel ini hanya sebagai bumbu, tetapi kehadirannya pasti lebih ditunggu oleh pembaca. Ingat kasus film Titanic? Jadi, jangan tanggung-tanggung, hadirkan Yos sebagai sosok yang lebih berbobot. Sehingga konflik yang diderita Sang Idealis semakin rumit. Adapun tokoh Aminah, kehadirannya sangat tidak jelas. Gadis berkerudung yang menyaksikan perbuatan lepas kendali Yos di kantor Kabul saat menghardik Wati, sebegitu gampangnya menjadi kekasih Yos, mantan pesaing kakaknya. Kerudung yang ia pakai seolah tak berarti apa-apa.

Beberapa Pertanyaan
            Ada sebuah pertanyaan tentang kematangan idealisme Kabul, Basar, dan Pak Tarya. Apakah sangat sulit bagi seorang mantan aktivis dan wartawan untuk membedakan antara pejuang penegakan syariah dengan Islam kemasan? Di masa rezim Orde Baru justru para pejuang penegak syariah ini diintimidasi. Parahnya para penguasa menghantam mereka dengan “Islam” juga. (Islam kemasan yang terwakili oleh tokoh Baldun di halaman 137-142). Akhirnya banyak masyarakat yang menjadi antipati terhadap sesuatu yang berbau Islam. Mungkin termasuk Kabul, Basar, dan Pak Tarya?

            Pertanyaan terakhir terkait dengan penggunaan nama partai. Mengapa harus fiktif? Rasanya kita semua sudah mahfum partai yang dimaksud tanpa harus disebutkan. Jangan sampai generasi kita berikutnya bertanya-tanya, “Memangnya ada Partai Golongan Lestari Menang pada masa Orde Baru di Indonesia, negara terkorup di Asia yang memiliki ideologi Pancasila, pertahanan ABRI, dan penataran P4?”

Akhirnya
            Ada ketidakpuasan mengetahui akhir cerita ini. Sang Idealis yang terpaksa keluar dari lingkaran pragmatis, tetapi mendapatkan kebahagiaan pengganti dengan mudah. Cinta Kabul kepada Wati tidaklah menghadapi hambatan yang berarti. Ke mana ancaman orang partai terhadap Kabul? Bukankah partai tersebut dikenal tidak memiliki belas kasihan? Padahal banyak orang enggan bertahan dalam idealismenya ketika tahu betapa mahal harga yang harus dibayarkan untuk sebuah idealisme.

            Namun, terlepas dari sedikit ketidakpuasan tersebut, novel ini masih sangat relevan untuk masyarakat Indonesia saat ini. Kondisi yang dipaparkan sangat bersentuhan dengan masyarakat sekarang. Bahkan, cerita ini akan tetap relevan hingga kapan pun, termasuk ketika idealisme tetap menjadi barang langka di dada manusia Indonesia.

Jakarta, 25 Mei 2008

diunggah ulang Kamis, 25 Mei 2023

Ulasan ini diikutsertakan dalam Lomba Mengulas Karya Sastra 2008 Program Reguler yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.

BARZAH


BARZAH


            “Ada yang mati! Ada yang mati!” Aku berteriak kegirangan dalam hati. “Ada orang mati!”

Kematian. Mungkin bagi orang lain kata itu sangat dihindari. Namun tidak bagiku. Orang lain boleh berduka dengan datangnya. Adanya kematian bagiku adalah kebahagiaan. Bahagia, karenanya aku dapat memenuhi kebutuhan belanja istriku. Karenanya pula aku dapat memenuhi kebutuhan susu anakku.

“Perlu berapa orang, Ja?” tanya Bang Ical.

“Lima ratus!” jawabku penuh nada kejutan. Pesanan tertinggi yang pernah kami dapatkan untuk jumlah relawan pelayat. Selama ini pesanan untuk relawan pelayat biasanya hanya di bawah tiga ratus orang.

“Gila! Lu nggak salah, Ja?” kembali Bang Ical bertanya. Kali ini sambil membulatkan mata dan menjulurkan lehernya. Tak percaya.

“Ini yang pesan pejabat, Bang! Wajar, kan? Jumlah segitu mah nggak ada apa-apanya dibanding jumlah relasinya!” Aku menjawab dengan gaya seolah-olah akulah pejabat tersebut.

“Dari mana kita ngumpulin orang sebanyak itu, Ja? Kemarin aja waktu Bu Dharmo yang butuh tiga ratus orang kita udah kedodoran. Ini lima ratus!” suara Bang Ical tercekat. Aku tahu ia pasti senang juga mendengar berita ini.

“Tenang, Bang! Urusan relawan biar saya dengan Ucup yang mengatur. Pokoknya, Bang Ical tahu beres!” gayaku lagi bak seorang pejabat sungguhan.

“Kapan penguburannya?”

“Dua hari lagi.”

Itu tandanya masih ada kesempatan buat mencari relawan tambahan.

*

“Ingat! Saya sudah bayar mahal untuk pelayat yang saya pesan. Saya tidak mau orang-orang yang Anda kirim hanya bergerombol sibuk dengan urusan masing-masing. Kalau kasus Tuan Kim terjadi pada saya, saya tidak mau membayar penuh harga yang Anda ajukan!” Pak Broto, klien terbaruku setelah Tuan Kim yang memesan lima ratus relawan pelayat, kembali memberi peringatan.

“Tenang, Pak! Kesalahan saat pemakaman Tuan Kim tidak akan terulang lagi. Kejadian kemarin akibat kurang koordinasi. Saya menjamin hal itu tak akan terulang ketika pemakaman mendiang ibu Pak Broto!” ucapku meyakinkan.

“Saya ingin mereka benar-benar menangis saat pemakaman nanti! Bukan bergerombol sambil ngobrol tak karuan!”

“Saya akan persiapkan, Pak! Kalau perlu jika Bapak menginginkan akan saya hadirkan orang-orang yang bisa menangis sampai meratap-ratap!” janjiku berusaha menutupi kegugupanku. Harapanku, semoga Pak Broto tidak terlalu terpengaruh terhadap pelayanan kami terhadap pemakaman Tuan Kim.

“Ya, itu tentu lebih baik! Hal itu akan semakin mengesankan bahwa ibuku memang orang yang pantas ditangisi dan diratapi kepergiannya.” Suara Pak Broto mulai menurun. Rupanya ia mulai melupakan kasus Tuan Kim.

“Tapi, Pak ..., tarifnya tentu berbeda antara yang meratap dengan yang sekadar menangis ...” Aku sengaja menggantung ucapanku.

“Masalah itu tidak usah dirisaukan! Saya akan bayar dua kali lipat jika proses pemakaman berlangsung sesuai dengan yang saya inginkan!” tegas Pak Broto menandakan transaksi telah disepakati.


*

“Mertuanya Mpok Leha meninggal, Bang.” Aku baru saja berkemas hendak ke kantor ketika istriku mencekal lenganku.

“Kamu saja yang melayat! Aku harus mengumpulkan orang untuk pemakaman ibunya Pak Broto!”

“Tapi Bang, Mpok Leha tetangga kita...” istriku berusaha menahanku, “tengok dulu sebentar, Bang!”

“Sih, besok orang-orang itu mau dipakai! Aku masih harus mencari sekitar seratusan orang lagi!” agak emosi kutatapi istriku, “Kamu saja yang ke sana!” Istriku hanya diam.

Aku benar-benar serba salah. Tetanggaku mengalami kematian tetapi aku tidak bisa bertakziah meski sebentar. Selain itu, besok hari pemakaman ibu dari Pak Broto. Jumlah pelayat yang diinginkan sangat banyak. Namun, hal itu tidak menjadi masalah jika dia tidak menuntut pelayat harus menangis. Aku kesulitan. Orang-orang yang biasa kupakai selama ini hanya bisa terima uang tetapi sulit untuk diajak profesional.

Akh! BARZAH memang harus menyediakan pelayanan yang maksimal terhadap orang yang membutuhkan jasanya. BARZAH, Bisnis Antar Jenazah. Satu-satunya pelayanan jasa pemakaman yang dilengkapi dengan tenaga pelayat yang dapat dipesan. Kupikir prospek usahaku ke depan akan semakin membaik di tengah perilaku masyarakat urban yang kian individual.

*

Bisnis antar jenazahku semakin dikenal orang. Namun, tidak ubahnya dengan bisnis-bisnis yang lainnya bisnis ini pun harus mengalami masa pasang dan surut. Untuk mengantisipasinya aku mau tidak mau harus melebarkan jangkauan wilayah pemasaran. Aku dan Bang Ical berusaha memperkenalkan bisnis ini ke daerah lain. Bukan lagi sekadar di Ibukota tetapi kalau perlu ke provinsi lain.

“Kepergian abang benar-benar tak bisa ditunda?” isteriku memegangi lenganku. Aku yang sedang menyiapkan segala keperluanku selama di Surabaya terpaksa menghentikan aktivitas tersebut.

“Pesawatku tidak sampai dua jam lagi harus berangkat, Sih! Sekarang pun aku masih di rumah. Jam berapa aku harus sampai di bandara?” tanyaku kesal pada isteriku.

“Sudah tiga orang tetangga kita meninggal. Tidak satupun yang Abang tengok. Semua orang juga sibuk, Bang! Tapi mereka tetap menyempatkan diri bertakziah meskipun sebentar, Bang!” nada suara isteriku terdengar protes.

“Sih! Aku baru mencoba mengembangkan bisnisku! Kesempatan tidak akan datang dua kali! Mumpung ada penawaran membuka cabang di Surabaya, aku akan mempelajari kemungkinan itu! Aku harus berangkat sekarang!” belaku seraya kembali mengemasi keperluanku. Kulihat jam tanganku. Gila! Jarumnya seolah lebih cepat dari yang seharusnya!

Gerakanku yang demonstratif saat melihat jam di pergelangan tanganku membuat isteriku menjauh. Ia tidak lagi menggangguku. Ya, seharusnya ia memahami apa yang kulakukan. Aku harus benar-benar profesional di pekerjaanku yang baru ini. Sudah tak terbilang jenis pekerjaan yang coba kugeluti. Semuanya berakhir naas. Ujung-ujungnya bangkrut atau di-PHK!


*

Gila! Pesawat yang seharusnya membawaku kembali ke Jakarta ternyata harus delay selama satu jam. Padahal isteriku sudah meneleponku, mengabarkan kalau anakku kecelakaan. Kuhubungi isteriku.

“Bagaimana keadaan Angga, Sih?”

“Kami sedang menuju rumah sakit, Bang…” terdengar suara isteriku yang terisak.

“Siapa yang mengantar kalian?” tanyaku lagi.

“Kami naik taksi. Adikmu tak bisa dihubungi…”

“Tidak ada tetangga yang bisa mengantar?”

“Sebagian besar masih di pemakaman… Jadi tidak ada kendaraan yang bisa dipinjam.”

“Pesawatnya delay, Sih! Aku agak telat. Namun, aku nanti akan langsung ke rumah sakit…” pesanku sebelum mengakhiri pembicaraan.

Kuhembuskan nafasku kuat-kuat. Tiba-tiba saja ada kegelisahan yang menyengat. Aku bukan hanya mengkhawatirkan keadaan anakku. Aku membayangkan jika kemungkinan buruk harus terjadi, apakah masih ada orang yang mau menyampaikan ucapan turut berduka cita kepadaku? Tulus tanpa pamrih?

Selama ini aku nyaris tidak sempat meluangkan waktuku meskipun sekadar mengucapkan berbelasungkawa terhadap tetanggaku yang mengalami kematian. Bahkan, justru di tempat lain aku menjadikan kematian sebagai lahan hidupku. Kukumpulkan orang-orang untuk berpura-pura menangisi kepergian sang mendiang. Sesudahnya kuberharap akan imbalan atas kepura-puraan tersebut.

Kuperhatikan jam di dinding. Sepertinya jarum penunjuk detiknya lamban sekali berputar. Berbeda dengan detak jantungku yang tiba-tiba semakin gelisah.
Anakku!


***


(SELESAI)


Jakarta, 9 Mei 2012