Anak Stasiun

 


"Anak Stasiun"

 

Aku terus berlari. Kutelusuri rel kereta api di samping telapak kakiku. Sesekali aku menoleh ke belakang. Lelaki kekar yang menakutkan tadi sudah tidak terlihat. Rupanya dia tidak mengejarku. Alhamdulillah ...

Aku tidak mengenal lelaki tersebut. Melihatnya saja baru sekali itu. Kupikir ia juga sama seperti aku. Ketika itu ia tersenyum-senyum melihatku.

“Siapa namamu?” tanyanya seraya mendekatiku.

“Pras!” jawabku. Aku menggeser posisi dudukku. Aku dirangkulnya untuk tetap duduk di sampingnya. Akh, wangi sekali tubuhnya. Kulitnya putih bersih dan hampir semua permukaan kulitnya ditumbuhi bulu. Celana jeansnya terlihat masih baru. Dadanya yang tegap terbungkus kaus ketat yang sekarang banyak dipakai lelaki remaja dan dewasa. Berbeda sekali dengan aku.

Tadi pagi aku hanya cuci muka. Pakaianku juga tidak berganti sejak kemarin. Aku merasa sudah tidak enak mencium bau badanku sendiri. Herannya lelaki itu tidak menjauh, malah menyuruhku duduk di dekatnya.

Lelaki itu terus menanyaiku macam-macam. Di mana rumahku? Masih sekolah atau tidak? Dan masih banyak lagi. Aku menjawab apa adanya.

“Kita cari tempat yang lebih sejuk, yuk!” ajak Om Joni, nama lelaki tersebut. Aku pun mengikutinya ke samping gardu listrik. Di dekatnya memang tumbuh sebatang pohon besar yang rimbun daunnya. Om Joni kembali duduk. Ia memintaku untuk duduk di pangkuannya. Tentu saja aku malu. Namun, karena ia terus membujukku aku pun menurutinya. Seketika itu juga kerinduanku pada bapak kembali muncul. Juga pada ibu yang pergi mencari bapak.

Aku diam. Om Joni juga diam. Hanya tangannya begitu hangat memelukku. Mengingatkanku pada pelukan bapak. Terus terang aku sudah agak lupa bagaimana rasanya dipeluk bapak. Sudah tiga tahun bapak pergi.

Tiba-tiba bagai tersengat listrik aku terkejut. Om Joni berusaha membuka celanaku!

“Sssst ... diam saja! Tidak apa-apa kok!” bujuknya saat aku ingin menjauhkan tangannya. Ia pun kembali membuka celanaku. Aku jadi takut. Aku berontak, tetapi tangan kiri Om Joni tetap melingkar erat di badanku. Aku terus berontak. Tidak juga dilepaskan. Bahkan terasa kian mengerat. Kubenturkan kepalaku ke wajahnya. Om Joni mengaduh. Pelukannya melonggar. Aku langsung meloncat dan melarikan diri. Sambil membetulkan celana aku terus berlari.

*

Kuhentikan langkahku. Ya, Allah! Aku takut sekali. Aku menyesal. Mengapa aku harus meninggalkan Bang Ipang dan Pak Roji? Padahal mereka begitu baik padaku. Merekalah yang mengajariku hidup setelah ibu menitipkanku pada mereka.

“Kamu di sini saja dulu, Pras! Bersama Pak Roji dan Bang Ipang. Biar Ibu saja yang mencari bapakmu!” kata ibu waktu itu.

“Pras ikut, Bu!” pintaku mengiba. Terbayang olehku kalau nasib ibu sama seperti bapak. Hilang tidak ada kabar berita. Lalu aku harus dengan siapa? Air mataku sudah tak terbendung lagi. Kulihat ibu memalingkan wajah dan mengusapnya. Mungkin ia menangis juga.

“Kalau kamu ikut, tentu ongkosnya menjadi lebih mahal. Supaya bisa dihemat, kamu di sini saja ikut saya! Nanti kalau ibumu sudah menemukan bapakmu pasti akan ke sini menjemputmu!” Pak Roji ikut membujuk. Bang Ipang hanya diam. Ia hanya memandangi orang-orang yang lalu lalang di pelataran stasiun. Namun, wajahnya mengeras. Entah bagaimana isi hatinya.

Ibupun pergi. Aku benar-benar kehilangan. Aku hanya bisa menangis. Tanpa suara. Hanya kurasakan tubuhku berguncang-guncang.

Kereta dari Solo segera tiba di peron satu. Pak Roji langsung berlari ke sana. Bang Ipang mengambil kruknya dan segera menyusul Pak Roji.

“Ayo ikut, Pras!” teriaknya ketika dilihatnya aku masih terdiam. Akhirnya dengan sedikit ragu aku mengikutinya.

“Kalau ada barang-barang bekas yang ditinggalkan penumpang, nanti kamu ambil, Pras!” Bang Ipang memberi petunjuk. Aku mengangguk. Begitu semua penumpang turun, kami pun naik. Bang Ipang, meskipun tangan kanannya bersangga di kruk, tangan kirinya dengan cekatan memunguti koran-koran, botol, atau barang bekas lain yang ditinggalkan penumpang dan memasukannya ke dalam karung. Aku yang di belakangnya masih sibuk mencari-cari.

“Kamu ke gerbong yang lain, Pras!” serunya ketika melihat tanganku baru memegang sebuah buku TTS bekas. Aku langsung berlari ke gerbong sebelah.

*

Kereta Matarmaja datang siang itu. Kami panen. Aku mendapatkan sepuluh eksemplar surat kabar. Lima di antaranya masih baru. Tentu bisa dijual dengan harga lebih lumayan dibandingkan dengan yang lama. Ditambah dengan beberapa botol air mineral besar dan barang lain.

“Wah, Bang Ipang lebih beruntung rupanya!” kataku. Kulihat barang yang ia dapat hampir sama dengan yang kudapat. Ia juga menemukan sebuah dompet yang lumayan tebal. Saat dibuka sepintas terlihat uang puluhan ribu berjejalan di dalamnya.

“Dompet ini harus kita kembalikan!” katanya.

“Lho? Bukankah dompet itu sudah jadi milik Bang Ipang?” tanyaku heran.

“Ini dompet penumpang yang terjatuhl” jawabnya.

“Tapi orang itu tidak tahu kalau dompetnya kita temukan!” kataku, “kita juga tidak tahu siapa pemilik dompet itu! Bagaimana kita mengembalikannya?”Terbayang di mataku beberapa lembar uang di dompet itu. Bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup kami beberapa hari.

“Kita sampaikan ke petugas stasiun! Orang itu kemungkinan telah melapor kalau dompetnya hilang!” kata Bang Ipang. Kembali terbayang kalau uang itu akan melayang dari tangan kami.

“... dan uang yang seharusnya kita dapatkan akan melayang begitu saja ...” terlepas juga ucapan tersebut. Bang Ipang tersenyum lebar sambil memandangiku. Aku jadi malu. Apakah aku sudah begitu mata duitan?

“Pras ...” sapanya lembut padaku, “kita ini bekerja. Meskipun kita hanya memunguti barang sisa penumpang, kita tetap bekerja. Pemulung kata orang. Namun, bukan berarti apa yang kita temukan sudah pasti menjadi milik kita. Koran-koran bekas dan botol-botol kosong itulah rezeki kita, Pras!” nasihatnya bijak.

“Tapi Bang ... mereka tidak tahu kalau dompet itu kita yang menemukan ...” ucapku terputus.

“Mereka mungkin tidak tahu, Pras! Tetapi apakah Allah juga tidak tahu?” tanyanya tajam. Aku langsung tertunduk.

Tak lama kemudian terdengar azan dari beberapa masjid di sekitar stasiun. Bang Ipang masuk ke dalam gubuk. Ia keluar lagi dengan membawa bungkusan. Kain sarung dan kemeja untuk salat.

“Sudah Zuhur, kita salat dulu!” ujarnya sambil berlalu. Aku tetap duduk termangu di depan gubuk. Kulihat Bang Ipang dengan kruknya berjalan penuh semangat menuju musola stasiun. Bang Ipang! Meskipun tubuhnya cacat, tetapi ia mempunyai jiwa yang belum tentu dimiliki orang yang bertubuh sempurna.


*

Aduh capeknya! Aku segera menepi dan mencari tempat berteduh. Di bawah pohon jambu itu tentunya sangat enak beristirahat sejenak. Kuperkirakan sudah lebih dari separuh perjalanan yang kutempuh. Pintu kereta api di dekat Pasar Pramuka sudah kulewati.
        Seharusnya aku bisa menumpang saja pada kereta api yang lewat. Semua kereta yang melintasi rel ini pasti lewat Stasiun Jatinegara. Namun, semua selalu penuh. Tentu saja, sebab sore-sore begini merupakan saat orang-orang pulang bekerja atau sekolah. Ketika aku memaksakan diri untuk mencoba naik, penumpang yang berada di pintu mencaci-makiku sambil memaksaku turun. Aku tidak bisa naik. Yah, aku harus sadar diri. Sudah dua hari aku tidak mandi. Kasihan juga kalau penumpang lain mesti menghirup aroma tubuhku yang tidak sedap.

Beberapa bocah sebayaku mengajak untuk naik ke atas gerbong. Aku hanya menggeleng. Aku ingat cerita Pak Roji dan Bang Ipang. Ada anak STM yang tergelincir dari atap gerbong dan jatuh dengan kepala remuk bersimbah darah. Ada anak SMP yang lupa berpegangan pada besi yang bermuatan listrik. Tersetrum. Baru terlepas setelah kulitnya mengering dan mengelupas. Ada juga yang terjatuh dengan bagian perutnya sobek hingga ususnya terburai. Hiiii... Naudzubillah! Ngeri aku membayangkannya. Aku tak mau meninggal seperti itu! Selain itu bagaimana kalau ibu datang setelah berhasil menemukan bapak?

Oh, aku begitu merindukan ibu! Sudah lebih dari sebulan ia menyusul bapak. Ke Proyek Senen, katanya. Itu sebabnya ketika Umay mengajakku ke Stasiun Senen aku tak keberatan. Bahkan, aku sangat menginginkan.

“Siapa tahu di sana kamu bertemu ibu atau bapakmu!” begitu janjinya. Kerinduanku semakin memuncak. Aku ingin segera bertemu ibu. Aku ingin segera bertemu bapak.

“Kalau begitu aku pamit dulu pada Pak Roji dan Bang Ipang!” sambutku bersemangat.

“Tak usah, Pras!” cegah Umay.

“Kenapa? Nanti mereka mencariku. Ibuku menitipkan aku pada mereka.”

“Kalau kamu pamit pada mereka pasti tidak diizinkan. Mereka memanfaatkan kamu, Pras! Kalau kamu pergi, siapa yang membantu mereka memulung?” jelas Umay.

“Oh iya, ya!” Aku menyetujui pernyataan Umay. Mereka belum tentu mengizinkan aku pergi. Bahkan kemungkinannya kecil sekali.

“Ayo, Pras! Itu kereta yang ke Senen sudah datang!” Umay berteriak seraya berlari menghambur ke arah kereta datang. Aku menyusulnya dengan berbekal harap. Ibu, aku tidak bisa jauh darimu! Bapak, aku kangen sekali padamu!


*

Jembatan ringkih yang menghubungkan perkampungan dengan Pasar Jatinegara mulai terlihat. Stasiun Jatinegara sebentar lagi akan kucapai. Beberapa anjing menggonggong ke setiap orang yang lewat. Dadaku berdebar. Namun, bukan gonggongan anjing itu yang menyebabkannya.

Di kanan dan kiri jajaran rel yang kulewati dipenuhi oleh orang-orang yang berjudi, bermabuk-mabukan, bahkan berhubungan intim di balik rimbun rerumputan dan bangkai gerbong dengan beralaskan koran. Aku bergidik.

“Bergaullah dengan orang yang baik, Pras! Mudah-mudahan kamu akan tertular menjadi baik juga!” begitu nasihat Bang Ipang kepadaku pada suatu hari.

“Pras cuma melihat saja, Bang! Pras tidak ikut bertaruh...” elakku. Ketika itu aku sering memanfaatkan waktu menunggu kedatangan kereta dengan melihat orang-orang berjudidengan kartu atau sabung ayam.

“Pada mulanya memang hanya melihat, Pras! Tapi lama-kelamaan kamu pasti timbul keinginan untuk mencoba. Kamu lihat Si Umay, kan? Apakah bapak-ibunya mengajarkan dia berjudi? Tidak, Pras! Dia terbiasa bergaul dengan orang-orang yang tidak tepat.”

Bang Ipang benar. Bergaul dengan orang baik memang memiliki kemungkinan untuk menjadi baik. Adapun bergaul dengan orang jahat tentunya akan menjadi jahat. Umay adalah contoh yang tepat. Ia sering berada di tengah laki-laki remaja dan dewasa di sekitar stasiun. Ia sering merokok bersama-sama dengan mereka. Sering mengganggu penumpang kereta dengan menaiki atap gerbong melalui sisi jendela kereta. Bahkan, sesekali mencopet penumpang kereta yang berada di dalam gerbong maupun yang masih di peron.

Umay! Dia juga yang mengumpankan aku kepada Om Joni! Dia bilang Om Joni dapat membantuku mencari ibu dan bapak. Aku pun dimintanya untuk ikut Om Joni. Om Joni memberinya uang sebelum Umay pergi. Kupikir Om Joni sekadar memberinya uang untuk jajan. Ternyata Umay menjualku!

*

 

Tanah Stasiun Jatinegara telah kutapaki. Lelah sekali. Kaki kecilku seolah tak mau kompromi. Padahal gubuk Bang Ipang dan Pak Roji tinggal beberapa puluh meter lagi.

Gubuk? Seharusnya dari tempatku berdiri gubuk itu sudah terlihat. Namun, jangankan hanya gubuk Bang Ipang dan Pak Roji, deretan gubuk yang lain pun tak terlihat. Segera aku sadar. Orang-orang sepertiku yang biasanya banyak bertebaran di stasiun itu kini nyaris sudah tidak ada. Warung tenda yang dulu berada di tempatku berdiri sekarang sudah tidak berbekas.

Mataku memanas. Kakiku yang semula lemas seolah kembali memacu langkahku. Bang Ipang! Pak Roji! Di mana kalian? Ya, Allah! Aku tak mau lagi kehilangan! Dulu bapak pergi meninggalkanku. Kemudian ibu juga meninggalkanku. Kini, Bang Ipang dan Pak Roji pun sudah tidak lagi di sampingku...

Air mata sudah tak mampu kutahan. Beberapa orang yang kutanya tentang keberadaan kedua orang itu hanya menggeleng. Hingga seorang petugas kebersihan menghampiriku.

“Kemarin ada pembersihan, Dik! Hampir semua penghuni gubuk diangkut ke truk. Katanya mereka akan didata dan kemudian dipulangkan ke kampung mereka masing-masing...”

Tak sanggup lagi kudengar kata-kata bapak tua itu. Tak sanggup lagi kudengar peluit petugas peron dan deru kereta yang menyusulnya. Tubuh ini seluruhnya kosong. Hingga ke hati.

***

(TAMAT)


Jakarta, 23 Mei 2008


Cerpen ini pertama kali diikutsertakan pada Lomba Penulisan Cerita Anak yang diselenggarakan oleh Gema Insani pada tahun 2001 dengan nama pena Prambudi Abdullah. Mendapatkan sertifikat No.GIP 060205001-B. Pada Mei 2008 direvisi dan diikutsertakan pada Lomba Menulis Cerita Pendek 2008 Program Reguler yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.


Tidak ada komentar: