Pengaduanku

 


"Pengaduanku"

Ya, Allah!
Mata ini buta akan kebesaran-Mu
hingga aku buta segala
Telinga ini tuli akan kearifan-Mu
hingga aku tuli segala
Hidung ini hambar akan keharuman-Mu
hingga aku hambar segala
Mulut ini bisu akan keagungan-Mu
hingga aku bisu segala
Tangan ini kaku akan karunia-Mu
hingga aku kaku segala
Kaki ini timpang akan ke hadirat-Mu
hingga aku timpang segala
Hati ini beku akan kasih-Mu
hingga aku beku segala

Ya, Allah!
Mata ini
Telinga ini
Hidung ini
Mulut ini
Tangan ini
Kaki ini
Hati ini
Jangan Kau biarkan mati!

Jakarta, 26 Desember 1998-2022

Valentino

 


Valentino


"Namaku Valentino Putra. Sebenarnya orang tuaku memberi nama lengkap Valentino Putra Setyo. Namun, semenjak perceraian mereka, aku sudah menghapus nama belakangku. Tidak ada kebanggaan lagi aku menyandang nama itu. Nama dari seseorang yang sebelumnya sangat kudambakan dalam kehidupanku. Setyo Utomo, ayahku.

Ayah dan ibu bercerai pada saat aku belum lulus sekolah dasar. Aku terpukul sekali. Aku mencintai ayah. Aku pun menyayangi ibu. Sayangnya mereka tak bisa terus bersatu. Aku harus memilih.

Ayah tidak memiliki pekerjaan yang pasti. Selama menikah lebih banyak keuangan yang bergantung pada ibu. Hal ini membuat ibu mudah naik darah. Tidak hanya kepada ayah, tetapi juga kepadaku. Hal ini membuatku tidak lagi menghiraukan ibu.

Aku tidak mungkin hidup bersama ayah yang juga belum mampu menopang hidupnya sendiri. Aku juga tidak mungkin betah bertahan di dalam rumah dengan berbagai omelan yang selalu ibu curahkan. Meskipun segala kebutuhan fisikku telah ibu penuhi, aku tidak ingin berlama-lama di rumah. Aku ingin tempat lain!"


Kertas di tanganku bergetar. Betapa menyesalnya diriku. Aku gagal! Aku seorang ayah yang gagal. Selintas kutatap sendu bekas istriku. Kulihat tubuhnya berguncang-guncang. Adapun tubuh anak kami sudah terbujur kaku di hadapannya. Valentino putra kami...

***

diunggah kembali 18 Desember 2022

Bedah Soal TO Gunadarma 2011



Paket Soal 36B Try Out Gunadarma
Tahun Pelajaran 2010-2011

49. Perhatikan kalimat berikut ini!

Siswa SMA/MA/SMK akan menghadapi Ujian Nasional (UN) pada tanggal 18-21 April 2011.

Pola kalimat tersebut adalah ….
A. S – P – O
B. S – P – K
C. S – P – O – K
D. K – S – P – K
E. S - P – Pel

Pembahasan:
Siswa SMA/MA/SMK (S)
akan menghadapi (P)
Ujian Nasional (UN) (O)
pada tanggal 18-21 April 2011 (K)

Jawaban: C

48. Perhatikan kalimat berikut ini!

Kuota kursi mahasiswa baru perguruan tinggi negeri melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) ujian tulis dan undangan mencapai 60 persen.

Kalimat yang sepola dengan kalimat tersaji adalah …
A. Kuota di SNMPTN ujian tulis tetap lebih banyak dibandingkan dengan undangan.
B. Kesepakatan ini berlaku untuk PTN.
C. Ada 60 PTN di Indonesia yang mengambil bagian di SNMPTN tahun ini.
D. Kami panitia ujian jalur mandiri akan menyiapkan soal tes tertulis.
E. Seleksi masuk PTN secara nasional tetap bernama SNMPTN.

Pembahasan:
Pola kalimat tersaji adalah;
Kuota kursi mahasiswa baru perguruan tinggi negeri melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) ujian tulis dan undangan (S)
mencapai (P)
60 persen (O)
Pola kalimat pilihan;
A. Kuota di SNMPTN ujian tulis (S)
tetap lebih banyak (P)
dibandingkan dengan undangan (K)
B. Kesepakatan ini (S)
berlaku (P)
untuk PTN (K)
C. Ada 60 PTN (P)
di Indonesia (K)
yang mengambil bagian di SNMPTN tahun ini (S)
D. Kami panitia ujian jalur mandiri (S)
akan menyiapkan (P)
soal tes tertulis (O)
E. Seleksi masuk PTN secara nasional (S)
tetap bernama (P)
SNMPTN (Pel)

Jawaban: D

47. Bacalah paragraf berikut dengan saksama!

(1) Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, menilai seleksi secara nasional yang dilaksanakan tahun ini justru lebih efisien, baik bagi masyarakat maupun kalangan perguruan tinggi. (2) Ia siap melaksanakan seleksi secara nasional. (3) Pihak PTN pun ingin mendukung siswa supaya bisa lebih konsentrasi dulu menyelesaikan studi di SMA. (4) Baru nanti berfokus mencari PTN. (5) Ini akan mengurangi beban siswa.

Kalimat tunggal dalam paragraf tersebut adalah kalimat nomor ….
A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)
E. (5)

Pembahasan:
Yang dimaksud dengan kalimat tunggal adalah kalimat dengan predikat tunggal (satu buah).
Kita analisis pola kalimat dalam pilihan;
A. Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, (S yang diperluas menjadi (S), P)
menilai (P)
seleksi secara nasional yang dilaksanakan tahun ini (O yang diperluas menjadi S P K)
justru lebih efisien, (Pel)
baik bagi masyarakat maupun kalangan pergruan tinggi (K)
Kalimat ini memiliki tiga predikat.
B. Ia (S)
siap melaksanakan (P)
seleksi (yang dilakukan) secara nasional (O yang diperluas menjadi S (P) K)
Kalimat ini memiliki dua predikat.
C. Pihak PTN (S)
pun ingin mendukung (P)
siswa (O)
supaya bisa lebih konsentrasi dulu menyelesaikan studi di SMA (K yang diperluas menjadi (S) P)
Kalimat ini memiliki dua predikat.
D. Baru nanti (K)
(siswa) berfokus ((S) P)
mencari PTN (Pel yang diperluas menjadi P O)
Kalimat ini memiliki dua predikat.
E. (Hal) Ini (S)
akan mengurangi (P)
beban siswa (O)
Kalimat ini memiliki satu predikat.

Jawaban: E

43. Bacalah kalimat-kalimat berikut dengan saksama!

(1) Pada akhir bulan Desember pasangan pengantin itu berbulan madu ke Bali.
(2) Cabang pohon itu menimpa atap kantor Cabang BRI.
(3) Dikecapnya kecap yang meleleh di bibir botol itu.
(4) Bang Hanafi selalu menyimpan uang di bank.
(5) Tim Kesebelasan Serang diserang Tim Kesebelasan Tangerang.

Kata berhomograf terdapat pada kalimat nomor ….
A. (1) dan (2)
B. (1) dan (3)
C. (2) dan (3)
D. (3) dan (4)
E. (3) dan (5)

Pembahasan:

Perhatikan Ringkasan Hubungan Makna berikut!

Homonim: Tulisan Sama, Pelisanan/Pelafalan Sama, Makna Berbeda
Homofon: Tulisan Berbeda, Pelisanan/pelafalan Sama, Makna Berbeda
Homograf: Tulisan Sama, Pelisanan/pelafalan Berbeda, Makna Berbeda
Polisemi: Tulisan sama, Pelisanan/pelafalan sama, Makna Satu rujukan

Kita bahas kalimat di atas satu per satu:
(1) Pada akhir bulan Desember pasangan pengantin itu berbulan madu ke Bali.
Kata bulan di atas memiliki tulisan yang sama, pelafalan yang sama tetapi makna berbeda. Ini menunjukkan bahwa kata bulan di atas memiliki jenis hubungan makna homonim (sama bunyi dan tulisan).

(2) Cabang pohon itu menimpa atap kantor Cabang BRI.
Kata cabang di atas memiliki tulisan yang sama, pelafalan yang sama dengan makna satu rujukan, yakni bagian kecil dari sesuatu. Ini menunjukkan bahwa kata cabang di atas memiliki jenis hubungan makna polisemi (banyak makna satu rujukan).

(3) Dikecapnya kecap yang meleleh di bibir botol itu.
Kata kecap di atas memiliki tulisan yang sama, pelafalan yang berbeda dan makna berbeda. Ini menunjukkan bahwa kata kecap di atas memiliki jenis hubungan makna homograf (sama tulisan).


(4) Bang Hanafi selalu menyimpan uang di bank.
Kata bang/bank di atas memiliki tulisan yang berbeda, pelafalan yang sama dan makna berbeda. Ini menunjukkan bahwa kata bang/bank di atas memiliki jenis hubungan makna homofon (sama bunyi).


(5) Tim Kesebelasan Serang diserang Tim Kesebelasan Tangerang.
Kata serang di atas memiliki tulisan yang sama, pelafalan yang berbeda dan makna berbeda. Ini menunjukkan bahwa kata serang di atas memiliki jenis hubungan makna homograf (sama tulisan).

Jawaban: E

42. Bacalah kalimat-kalimat berikut dengan saksama!
(1) Banyak sarjana yang tidak mendapat pekerjaan yang sesuai dengan ijazahnya.
(2) Para ustad sedang mendengar ceramah yang disampaikan oleh Kyai Haji Atobrya.
(3) Menonton bola melalui pesawat televise lebih enak daripada langsung berdesak-desakkan.
(4) Kita sebaiknya menyumbang saudara-saudara kita yang terkena musibah Gunung Merapi.
(5) Para santri sedang membaca kitab dengan serius.

Kata yang mengalami perluasan makna terdapat dalam kalimat nomor….
A. (1) dan (2)
B. (1) dan (3)
C. (2) dan (3)
D. (3) dan (4)
E. (4) dan (5)

Pembahasan:
Yang dimaksud perluasan makna adalah kata yang sebelumnya hanya berlaku untuk hal khusus dalam perkembangannya kini digunakan untuk hal yang lebih luas. Demikian sebaliknya dengan penyempitan makna. Berikut kita bahas kalimat-kalimat yang tersaji:
(1) Banyak sarjana yang tidak mendapat pekerjaan yang sesuai dengan ijazahnya.
Kata sarjana yang berasal dari bahasa Sansekerta dulu digunakan untuk orang yang berilmu dalam bidang apa pun. Kini sarjana merupakan gelar kependidikan bagi mahasiswa yang sudah diwisuda. Dalam hal ini kata sarjana mengalami penyempitan makna.
(2) Para ustad sedang mendengar ceramah yang disampaikan oleh Kyai Haji Atobrya.
Kata ustad yang berasal dari bahasa Arab dahulu digunakan untuk seorang guru yang memberikan ilmu di sekolah. Kini ustad merupakan orang yang mengajarkan hal keagamaan, khususnya Islam. Dalam hal ini kata ustad mengalami penyempitan makna.
(3) Menonton bola melalui pesawat televisi lebih enak daripada langsung berdesak-desakan.
Kata pesawat dahulu merupakan alat transportasi udara. Kini pesawat digunakan untuk berbagai peralatan elektronika seperti televisi, radio, telepon, dll. Dalam hal ini kata pesawat mengalami perluasan makna.
(4) Kita sebaiknya menyumbang saudara-saudara kita yang terkena musibah Gunung Merapi.
Kata saudara yang berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti satu rahim dulu hanya digunakan untuk orang yang memiliki pertalian darah. Kini saudara bisa digunakan untuk siapa pun bahkan untuk orang yang tidak dikenal sekalipun. Dalam hal ini kata saudara mengalami perluasan makna.
(5) Para santri sedang membaca kitab dengan serius.
Kata kitab yang berasal dari bahasa Arab dahulu bermakna untuk semua jenis buku. Kini kata kitab hanya merujuk pada buku-buku yang berisikan ilmu agama. Dalam hal ini kata kitab mengalami penyempitan makna.

Jawaban: D

Nah, sekian dulu pembahasan soal UN Bahasa Indonesia kali ini. Tetap rutin belajar meskipun tidak terlalu lama. Semoga kesuksesan ada di tangan Anda!


Lewat Tengah Malam

 

"Lewat Tengah Malam"

Lewat tengah malam...
Alam sunyi, pun hati
Serangga malam bisu
Sepoi angin rasa beku
dingin merasuk kalbu

Harapku...
Usaikan sepi
Tamatkan duka
Cukupkan perih
Biar rindu menggantikannya

Namun,
jangan biarkan rindu berlarut
Sebab hati rasakan hampa
Terasa beban menghimpit luka
yang terkuak,
dan menganga

Aku rindu
Kutunjukkan inginku
Bukan dengan angkuh
tapi,
dengan harapku
Lewat tengah malam....

Jakarta, 7 Oktober 1997 - 7 November 2022

Masih Ada Luka (Tentang Kamu)



Masih Ada Luka (Tentang Kamu)


Berantai masa halangi jiwa
Kutak bisa meronta
Hanya berbisik sesak
Engkau begitu jauh
Tinggi
Tak tersentuh

 

Kala kunyaris meraihnya
Dengan sisa nyali yang luka
Lagi kuberbisik
Engkau telah menghilang
Tinggal bayang
Sisakan perih

 

Masih ada luka
Saat semua berlalu
Kembali hadir deramu
Mengikis luka lama
Timbulkan luka baru
Seluas kalbu.


Jakarta, 15 Oktober 1999

(Semoga tidak berulang...)


Anak Stasiun

 


"Anak Stasiun"

 

Aku terus berlari. Kutelusuri rel kereta api di samping telapak kakiku. Sesekali aku menoleh ke belakang. Lelaki kekar yang menakutkan tadi sudah tidak terlihat. Rupanya dia tidak mengejarku. Alhamdulillah ...

Aku tidak mengenal lelaki tersebut. Melihatnya saja baru sekali itu. Kupikir ia juga sama seperti aku. Ketika itu ia tersenyum-senyum melihatku.

“Siapa namamu?” tanyanya seraya mendekatiku.

“Pras!” jawabku. Aku menggeser posisi dudukku. Aku dirangkulnya untuk tetap duduk di sampingnya. Akh, wangi sekali tubuhnya. Kulitnya putih bersih dan hampir semua permukaan kulitnya ditumbuhi bulu. Celana jeansnya terlihat masih baru. Dadanya yang tegap terbungkus kaus ketat yang sekarang banyak dipakai lelaki remaja dan dewasa. Berbeda sekali dengan aku.

Tadi pagi aku hanya cuci muka. Pakaianku juga tidak berganti sejak kemarin. Aku merasa sudah tidak enak mencium bau badanku sendiri. Herannya lelaki itu tidak menjauh, malah menyuruhku duduk di dekatnya.

Lelaki itu terus menanyaiku macam-macam. Di mana rumahku? Masih sekolah atau tidak? Dan masih banyak lagi. Aku menjawab apa adanya.

“Kita cari tempat yang lebih sejuk, yuk!” ajak Om Joni, nama lelaki tersebut. Aku pun mengikutinya ke samping gardu listrik. Di dekatnya memang tumbuh sebatang pohon besar yang rimbun daunnya. Om Joni kembali duduk. Ia memintaku untuk duduk di pangkuannya. Tentu saja aku malu. Namun, karena ia terus membujukku aku pun menurutinya. Seketika itu juga kerinduanku pada bapak kembali muncul. Juga pada ibu yang pergi mencari bapak.

Aku diam. Om Joni juga diam. Hanya tangannya begitu hangat memelukku. Mengingatkanku pada pelukan bapak. Terus terang aku sudah agak lupa bagaimana rasanya dipeluk bapak. Sudah tiga tahun bapak pergi.

Tiba-tiba bagai tersengat listrik aku terkejut. Om Joni berusaha membuka celanaku!

“Sssst ... diam saja! Tidak apa-apa kok!” bujuknya saat aku ingin menjauhkan tangannya. Ia pun kembali membuka celanaku. Aku jadi takut. Aku berontak, tetapi tangan kiri Om Joni tetap melingkar erat di badanku. Aku terus berontak. Tidak juga dilepaskan. Bahkan terasa kian mengerat. Kubenturkan kepalaku ke wajahnya. Om Joni mengaduh. Pelukannya melonggar. Aku langsung meloncat dan melarikan diri. Sambil membetulkan celana aku terus berlari.

*

Kuhentikan langkahku. Ya, Allah! Aku takut sekali. Aku menyesal. Mengapa aku harus meninggalkan Bang Ipang dan Pak Roji? Padahal mereka begitu baik padaku. Merekalah yang mengajariku hidup setelah ibu menitipkanku pada mereka.

“Kamu di sini saja dulu, Pras! Bersama Pak Roji dan Bang Ipang. Biar Ibu saja yang mencari bapakmu!” kata ibu waktu itu.

“Pras ikut, Bu!” pintaku mengiba. Terbayang olehku kalau nasib ibu sama seperti bapak. Hilang tidak ada kabar berita. Lalu aku harus dengan siapa? Air mataku sudah tak terbendung lagi. Kulihat ibu memalingkan wajah dan mengusapnya. Mungkin ia menangis juga.

“Kalau kamu ikut, tentu ongkosnya menjadi lebih mahal. Supaya bisa dihemat, kamu di sini saja ikut saya! Nanti kalau ibumu sudah menemukan bapakmu pasti akan ke sini menjemputmu!” Pak Roji ikut membujuk. Bang Ipang hanya diam. Ia hanya memandangi orang-orang yang lalu lalang di pelataran stasiun. Namun, wajahnya mengeras. Entah bagaimana isi hatinya.

Ibupun pergi. Aku benar-benar kehilangan. Aku hanya bisa menangis. Tanpa suara. Hanya kurasakan tubuhku berguncang-guncang.

Kereta dari Solo segera tiba di peron satu. Pak Roji langsung berlari ke sana. Bang Ipang mengambil kruknya dan segera menyusul Pak Roji.

“Ayo ikut, Pras!” teriaknya ketika dilihatnya aku masih terdiam. Akhirnya dengan sedikit ragu aku mengikutinya.

“Kalau ada barang-barang bekas yang ditinggalkan penumpang, nanti kamu ambil, Pras!” Bang Ipang memberi petunjuk. Aku mengangguk. Begitu semua penumpang turun, kami pun naik. Bang Ipang, meskipun tangan kanannya bersangga di kruk, tangan kirinya dengan cekatan memunguti koran-koran, botol, atau barang bekas lain yang ditinggalkan penumpang dan memasukannya ke dalam karung. Aku yang di belakangnya masih sibuk mencari-cari.

“Kamu ke gerbong yang lain, Pras!” serunya ketika melihat tanganku baru memegang sebuah buku TTS bekas. Aku langsung berlari ke gerbong sebelah.

*

Kereta Matarmaja datang siang itu. Kami panen. Aku mendapatkan sepuluh eksemplar surat kabar. Lima di antaranya masih baru. Tentu bisa dijual dengan harga lebih lumayan dibandingkan dengan yang lama. Ditambah dengan beberapa botol air mineral besar dan barang lain.

“Wah, Bang Ipang lebih beruntung rupanya!” kataku. Kulihat barang yang ia dapat hampir sama dengan yang kudapat. Ia juga menemukan sebuah dompet yang lumayan tebal. Saat dibuka sepintas terlihat uang puluhan ribu berjejalan di dalamnya.

“Dompet ini harus kita kembalikan!” katanya.

“Lho? Bukankah dompet itu sudah jadi milik Bang Ipang?” tanyaku heran.

“Ini dompet penumpang yang terjatuhl” jawabnya.

“Tapi orang itu tidak tahu kalau dompetnya kita temukan!” kataku, “kita juga tidak tahu siapa pemilik dompet itu! Bagaimana kita mengembalikannya?”Terbayang di mataku beberapa lembar uang di dompet itu. Bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup kami beberapa hari.

“Kita sampaikan ke petugas stasiun! Orang itu kemungkinan telah melapor kalau dompetnya hilang!” kata Bang Ipang. Kembali terbayang kalau uang itu akan melayang dari tangan kami.

“... dan uang yang seharusnya kita dapatkan akan melayang begitu saja ...” terlepas juga ucapan tersebut. Bang Ipang tersenyum lebar sambil memandangiku. Aku jadi malu. Apakah aku sudah begitu mata duitan?

“Pras ...” sapanya lembut padaku, “kita ini bekerja. Meskipun kita hanya memunguti barang sisa penumpang, kita tetap bekerja. Pemulung kata orang. Namun, bukan berarti apa yang kita temukan sudah pasti menjadi milik kita. Koran-koran bekas dan botol-botol kosong itulah rezeki kita, Pras!” nasihatnya bijak.

“Tapi Bang ... mereka tidak tahu kalau dompet itu kita yang menemukan ...” ucapku terputus.

“Mereka mungkin tidak tahu, Pras! Tetapi apakah Allah juga tidak tahu?” tanyanya tajam. Aku langsung tertunduk.

Tak lama kemudian terdengar azan dari beberapa masjid di sekitar stasiun. Bang Ipang masuk ke dalam gubuk. Ia keluar lagi dengan membawa bungkusan. Kain sarung dan kemeja untuk salat.

“Sudah Zuhur, kita salat dulu!” ujarnya sambil berlalu. Aku tetap duduk termangu di depan gubuk. Kulihat Bang Ipang dengan kruknya berjalan penuh semangat menuju musola stasiun. Bang Ipang! Meskipun tubuhnya cacat, tetapi ia mempunyai jiwa yang belum tentu dimiliki orang yang bertubuh sempurna.


*

Aduh capeknya! Aku segera menepi dan mencari tempat berteduh. Di bawah pohon jambu itu tentunya sangat enak beristirahat sejenak. Kuperkirakan sudah lebih dari separuh perjalanan yang kutempuh. Pintu kereta api di dekat Pasar Pramuka sudah kulewati.
        Seharusnya aku bisa menumpang saja pada kereta api yang lewat. Semua kereta yang melintasi rel ini pasti lewat Stasiun Jatinegara. Namun, semua selalu penuh. Tentu saja, sebab sore-sore begini merupakan saat orang-orang pulang bekerja atau sekolah. Ketika aku memaksakan diri untuk mencoba naik, penumpang yang berada di pintu mencaci-makiku sambil memaksaku turun. Aku tidak bisa naik. Yah, aku harus sadar diri. Sudah dua hari aku tidak mandi. Kasihan juga kalau penumpang lain mesti menghirup aroma tubuhku yang tidak sedap.

Beberapa bocah sebayaku mengajak untuk naik ke atas gerbong. Aku hanya menggeleng. Aku ingat cerita Pak Roji dan Bang Ipang. Ada anak STM yang tergelincir dari atap gerbong dan jatuh dengan kepala remuk bersimbah darah. Ada anak SMP yang lupa berpegangan pada besi yang bermuatan listrik. Tersetrum. Baru terlepas setelah kulitnya mengering dan mengelupas. Ada juga yang terjatuh dengan bagian perutnya sobek hingga ususnya terburai. Hiiii... Naudzubillah! Ngeri aku membayangkannya. Aku tak mau meninggal seperti itu! Selain itu bagaimana kalau ibu datang setelah berhasil menemukan bapak?

Oh, aku begitu merindukan ibu! Sudah lebih dari sebulan ia menyusul bapak. Ke Proyek Senen, katanya. Itu sebabnya ketika Umay mengajakku ke Stasiun Senen aku tak keberatan. Bahkan, aku sangat menginginkan.

“Siapa tahu di sana kamu bertemu ibu atau bapakmu!” begitu janjinya. Kerinduanku semakin memuncak. Aku ingin segera bertemu ibu. Aku ingin segera bertemu bapak.

“Kalau begitu aku pamit dulu pada Pak Roji dan Bang Ipang!” sambutku bersemangat.

“Tak usah, Pras!” cegah Umay.

“Kenapa? Nanti mereka mencariku. Ibuku menitipkan aku pada mereka.”

“Kalau kamu pamit pada mereka pasti tidak diizinkan. Mereka memanfaatkan kamu, Pras! Kalau kamu pergi, siapa yang membantu mereka memulung?” jelas Umay.

“Oh iya, ya!” Aku menyetujui pernyataan Umay. Mereka belum tentu mengizinkan aku pergi. Bahkan kemungkinannya kecil sekali.

“Ayo, Pras! Itu kereta yang ke Senen sudah datang!” Umay berteriak seraya berlari menghambur ke arah kereta datang. Aku menyusulnya dengan berbekal harap. Ibu, aku tidak bisa jauh darimu! Bapak, aku kangen sekali padamu!


*

Jembatan ringkih yang menghubungkan perkampungan dengan Pasar Jatinegara mulai terlihat. Stasiun Jatinegara sebentar lagi akan kucapai. Beberapa anjing menggonggong ke setiap orang yang lewat. Dadaku berdebar. Namun, bukan gonggongan anjing itu yang menyebabkannya.

Di kanan dan kiri jajaran rel yang kulewati dipenuhi oleh orang-orang yang berjudi, bermabuk-mabukan, bahkan berhubungan intim di balik rimbun rerumputan dan bangkai gerbong dengan beralaskan koran. Aku bergidik.

“Bergaullah dengan orang yang baik, Pras! Mudah-mudahan kamu akan tertular menjadi baik juga!” begitu nasihat Bang Ipang kepadaku pada suatu hari.

“Pras cuma melihat saja, Bang! Pras tidak ikut bertaruh...” elakku. Ketika itu aku sering memanfaatkan waktu menunggu kedatangan kereta dengan melihat orang-orang berjudidengan kartu atau sabung ayam.

“Pada mulanya memang hanya melihat, Pras! Tapi lama-kelamaan kamu pasti timbul keinginan untuk mencoba. Kamu lihat Si Umay, kan? Apakah bapak-ibunya mengajarkan dia berjudi? Tidak, Pras! Dia terbiasa bergaul dengan orang-orang yang tidak tepat.”

Bang Ipang benar. Bergaul dengan orang baik memang memiliki kemungkinan untuk menjadi baik. Adapun bergaul dengan orang jahat tentunya akan menjadi jahat. Umay adalah contoh yang tepat. Ia sering berada di tengah laki-laki remaja dan dewasa di sekitar stasiun. Ia sering merokok bersama-sama dengan mereka. Sering mengganggu penumpang kereta dengan menaiki atap gerbong melalui sisi jendela kereta. Bahkan, sesekali mencopet penumpang kereta yang berada di dalam gerbong maupun yang masih di peron.

Umay! Dia juga yang mengumpankan aku kepada Om Joni! Dia bilang Om Joni dapat membantuku mencari ibu dan bapak. Aku pun dimintanya untuk ikut Om Joni. Om Joni memberinya uang sebelum Umay pergi. Kupikir Om Joni sekadar memberinya uang untuk jajan. Ternyata Umay menjualku!

*

 

Tanah Stasiun Jatinegara telah kutapaki. Lelah sekali. Kaki kecilku seolah tak mau kompromi. Padahal gubuk Bang Ipang dan Pak Roji tinggal beberapa puluh meter lagi.

Gubuk? Seharusnya dari tempatku berdiri gubuk itu sudah terlihat. Namun, jangankan hanya gubuk Bang Ipang dan Pak Roji, deretan gubuk yang lain pun tak terlihat. Segera aku sadar. Orang-orang sepertiku yang biasanya banyak bertebaran di stasiun itu kini nyaris sudah tidak ada. Warung tenda yang dulu berada di tempatku berdiri sekarang sudah tidak berbekas.

Mataku memanas. Kakiku yang semula lemas seolah kembali memacu langkahku. Bang Ipang! Pak Roji! Di mana kalian? Ya, Allah! Aku tak mau lagi kehilangan! Dulu bapak pergi meninggalkanku. Kemudian ibu juga meninggalkanku. Kini, Bang Ipang dan Pak Roji pun sudah tidak lagi di sampingku...

Air mata sudah tak mampu kutahan. Beberapa orang yang kutanya tentang keberadaan kedua orang itu hanya menggeleng. Hingga seorang petugas kebersihan menghampiriku.

“Kemarin ada pembersihan, Dik! Hampir semua penghuni gubuk diangkut ke truk. Katanya mereka akan didata dan kemudian dipulangkan ke kampung mereka masing-masing...”

Tak sanggup lagi kudengar kata-kata bapak tua itu. Tak sanggup lagi kudengar peluit petugas peron dan deru kereta yang menyusulnya. Tubuh ini seluruhnya kosong. Hingga ke hati.

***

(TAMAT)


Jakarta, 23 Mei 2008


Cerpen ini pertama kali diikutsertakan pada Lomba Penulisan Cerita Anak yang diselenggarakan oleh Gema Insani pada tahun 2001 dengan nama pena Prambudi Abdullah. Mendapatkan sertifikat No.GIP 060205001-B. Pada Mei 2008 direvisi dan diikutsertakan pada Lomba Menulis Cerita Pendek 2008 Program Reguler yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.


Seperti Air

 



Seperti Air

 

Jika bumi tidak lagi lapang,

jangan jiwa kau biarkan sempit

Jika mimpi tidak lagi indah,

jangan salahkan mentari yang sembunyi

Hingga, apa yang kau ingin 'kan terus mengalir

seperti air

Salam!

Salam!

Sungguh berbahagia bisa memulai blog ini pada Oktober 2010. Meskipun materinya masih sangat terbatas, tetapi saya berharap dapat menjadi dokumentasi sekaligus motivasi untuk lebih kerap dalam menulis.

Beberapa tahun pertama, semangat untuk menyampaikan berbagai hal tetap menyala. Sayang... sempat vakum di beberapa tahun terakhir. Di saat gerakan membaca digencarkan. Di saat Gerakan Literasi  digalakkan.

Kini, meskipun terlambat, saya coba bangkitkan lagi. Semangat menulis, yang diawali dengan semangat membaca atau literasi.

Terima kasih untuk teman lama. Selamat datang teman baru! Selamat menikmati segala isi blog ini. Meski blog ini masih jauh dari sempurna, saya berharap di dalamnya ada beberapa helai hikmah yang dapat dipetik. Semoga bermanfaat!


Budiyono, S.Pd.

Bedah Soal TO DKI Bahasa Indonesia



Bedah Soal TO DKI Bahasa Indonesia

Hmmm... sekarang kita sudah memasuki pembahasan soal UN Bahasa Indonesia yang ke-4. Soal-soal kali ini dikutip dari soal Try Out Tingkat DKI yang diselenggarakan pada hari Rabu, 9 Februari 2011. Soal yang dibahas divariasikan dari program Bahasa maupun IPA/IPS. Seperti biasa sedikit demi sedikit akan menjadi bukit. Belajar sebentar tetapi terus-menerus mudah-mudahan lebih melekat di ingatan. Selamat belajar!

Perhatikan paragraf berikut ini dengan saksama!

Polisi Ngawi mencatat di jalur sepanjang 35 kilometer dari Kota Ngawi hingga Kota Sragen di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah hingga Juli tahun ini telah terjadi sebanyak 67 kecelakaan lalu lintas. Dari angka kecelakaan itu jumlah korban jiwa mencapai 70 orang. Bahkan baru-baru ini sebuah truk tangki dan bus bertabrakan di jalur tersebut, tepatnya di Desa Ngrancang yang mengakibatkan 11 orang tewas.

Kondisi jalan yang rusak sebenarnya sudah banyak dikeluhkan para pengemudi kendaraan. Namun, perbaikan hingga kini masih belum dilakukan. Jajaran polres Ngawi saat ini hanya dapat meminta agar para pengemudi ekstra hati-hati saat melewati jalur tersebut mengingat musim lebaran saat ini hanya tinggal beberapa pekan lagi.


1. Rangkuman isi paragraf tersebut yang tepat adalah...
A. Polres Ngawi mengatakan bahwa dari Kota Ngawi hingga Kota Sragen hingga Juli tahun ini telah terjadi banyak kecelakaan lalu lintas.
B. Kondisi jalan yang rusak di Ngawi hingga kini belum diperbaiki sehingga sampai bulan Juli telah terjadi banyak kecelakaan.
C. Polres Ngawi meminta agar para pengemudi hati-hati saat melewati jalur Ngawi hingga Sragen karena lebaran hanya tinggal beberapa pekan lagi.
D. Para pengemudi kendaraan agar berhati-hati di jalan Kota Ngawi hingga Kota Sragen karena kondisi jalan yang rusak.
E. Dari Kota Ngawi hingga Kota Sragen di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah hingga Juli tahun ini telah terjadi kecelakaan.

Pembahasan:

Kutipan di atas terdiri atas dua paragraf. Untuk menentukan rangkuman kita harus menentukan ide pokok tiap-tiap paragraf baru kemudian kita rangkai menjadi kalimat.
Ide pokok paragraf pertama adalah banyaknya kecelakaan di jalur sepanjang 35 kilometer dari Kota Ngawi hingga Kota Sragen di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ide pokok paragraf kedua adalah kondisi jalan yang rusak. Jadi rangkuman untuk penggalan wacana di atas adalah banyaknya kecelakaan di jalur sepanjang 35 kilometer dari Kota Ngawi hingga Kota Sragen akibat kondisi jalan yang rusak. Jika kalimat rangkuman tersebut kita ubah susunannya akan menjadi kondisi jalan yang rusak menyebabkan banyaknya kecelakaan di jalur sepanjang 35 kilometer dari Kota Ngawi hingga Kota Sragen.

Jawaban: B

2. Kalimat tanya yang sesuai dengan isi paragraf kedua adalah...
A. Mengapa jalan yang rusak di Ngawi belum dapat diperbaiki?
B. Mengapa dari Ngawi ke Sragen sering terjadi kecelakaan?
C. Bagaimanakah upaya polres Ngawi mengatasi jalan yang rusak?
D. Bagaimanakah reaksi para pemudik lebaran terhadap sikap polres?
E. Apa penyebab jalan di Ngawi rusak berat?

Pembahasan:

Yang dimaksud dengan kalimat tanya yang sesuai dengan isi paragraf adalah kalimat tanya yang jawabannya terdapat dalam isi paragraf secara tekstual. Jawaban untuk kalimat tanya pada pilihan A, C, D, dan E tidak ditemukan dalam teks. Adapun kalimat tanya pada pilihan B memiliki jawaban pada pargraf kedua.

Jawaban: B

Perhatikan paragraf berikut ini dengan saksama!

(1) Pemerintah menyediakan anggaran beasiswa sebesar Rp. 200 milyar bagi lulusan SMA sederajat yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi. (2) Beasiswa ini diberikan mulai 2010 kepada 20.000 lulusan SMA sederajat yang berprestasi tetapi kesulitan biaya untuk kuliah. (3) Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas di Jakarta, Jumat (13/11) menjelaskan, lulusan SMA berprestasi tersebut mendapat beasiswa Rp. 10 juta per tahun untuk membiayai pendidikan dan bantuan hidup sehari-hari. (4) Beasiswa itu dilanjutkan hingga mahasiswa lulus. (5) Dari hasil penelitian Bappenas, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin rendah tingkat partisipasi masyarakat untuk melanjutkan pendidikan.

3. Kalimat utama paragraf tersebut adalah nomor ....
A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)
E. (5)

Pembahasan:

Yang dimaksud kalimat utama adalah kalimat yang di dalamnya terkandung ide pokok/pikiran utama paragraf. Kalimat utama inilah yang akan dijelaskan/dijabarkan oleh kalimat-kalimat lain yang disebut kalimat penjelas. Dalam paragraf tersebut terlihat bahwa kalimat pertama merupakan kalimat utama karena kalimat tersebut dijelaskan oleh kalimat-kalimat yang lain. Hal ini ditandai dengan penggunaan kata-kata rujukan seperti ini, tersebut, dan itu.

Jawaban: A

4. Kalimat sumbang dalam paragraf tersebut adalah nomor ....
A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)
E. (5)

Pembahasan:

Yang dimaksud dengan kalimat sumbang adalah kalimat yang tidak terpadu/terkait dengan pembahasan (ide pokok). Pargraf di atas membicarakan beasiswa bagi lulusan SMA sederajat yang berprestasi. Jadi, kalimat yang sumbang pada paragraf di atas adalah kalimat ke-5 yang justru membicarakan partisipasi masyarakat untuk melanjutkan pendidikan.

Jawaban: E

Perhatikan kalimat-kalimat berikut!
(1) Semua siswa-siswa dilarang merokok.
(2) Kita harus tolong-menolong dengan ikhlas.
(3) Saya merasa sangat prihatin dengan keadaan kesehatan Anda saat ini.
(4) Jika saya mempunyai uang, maka saya akan membeli buku.
(5) Ketika saya datang, dia sedang belajar.


5. Yang tergolong kalimat efektif adalah nomor....
A. (1), (2), (3)
B. (1), (3), (4)
C. (2), (3), (4)
D. (2), (3), (5)
E. (3), (4), (5)

Yang dimaksud dengan kalimat efektif adalah kalimat yang menggunakan kata-kata tidak berlebihan. Pada kalimat (1) makna pengulangan pada kata siswa-siswa berarti jamak/banyak/seluruh. Jadi penggunaan kata semua dirasakan sebagai kemubaziran /sia-sia. Pada kalimat (4) konjungtor jika tidak perlu digunakan bersamaan dengan konjungtor maka karena penggunaan kata maka tidak memberikan makna lain kecuali kemubaziran.

Jawaban: D

Perhatikan pargraf berikut ini!

(1) Sejak awal, pembangunan jalan kereta di Pulau Sumatera memang untuk angkutan barang. (2) Kereta penumpang seolah hanya disisipkan pada rangkaian jadwal perjalanan kereta api. (3) Hal itu terjadi karena Sumatera bagian Selatan memang kaya akan potensi alam, seperti tambang dan hasil perkebunan. (4) Jadi, wajar bila jalan rel di Sumatera Selatan hingga Lampung dipadati kereta barang. (5) Salah satunya adalah pengoperasian kereta batu bara rangkaian panjang (babaranjang) sebanyak 28 kereta berangkaian panjang.

6. Ide pokok paragraf tersebut adalah ....
A. pembangunan jalan kereta di Sumatera
B. awal pembangunan jalan kereta di Sumatera
C. potensi alam Sumatera Selatan
D. fungsi jalan kereta di Sumatera Selatan
E. pengoperasian kereta batu bara

Pembahasan:

Jika diperhatikan secara cermat akan kita temukan bahwa ide pokok paragraf di atas terkait dengan fungsi/tujuan pembangunan jalan kereta di Pulau Sumatera (lihat kalimat pertama). Ide pokok tersebut kemudian dijelaskan oleh kalimat-kalimat berikutnya yang berperan sebagai kalimat penjelas.

Jawaban: D

7. Kalimat fakta dalam paragraf tersebut adalah ....
A. (1), (2), dan (3)
B. (1), (3), dan (5)
C. (2), (3), dan (4)
D. (2), (4), dan (5)
E. (3), (4), dan (5)

Pembahasan:

Yang dimaksud dengan kalimat fakta adalah kalimat yang di dalamnya terkandung kebenaran sebuah informasi, sesuai dengan realitas, dan bukan berupa pendapat atau opini seseorang. Biasanya ditandai dengan terdapatnya data berupa angka. Kalimat (2) dan (4) terdapat pendapat/opini yang ditandai dengan kata seolah dan wajar. Adapun kalimat (1) dan (3) merupakan realita/kenyataannya. Kalimat (5) terdapat data yang merupakan ciri-ciri fakta.

Jawaban: B





Belajar Menjadi Lelaki

 


Belajar Menjadi Lelaki

Judul : 11 Amanah Lelaki: Menjemput Keping Hikmah

Penulis : Bayu Gawtama

Penerbit : Gema Insani Press

Tahun : 2007

Tebal : 154 halaman


         Dr. H. Miftah Faridl dalam pengantar di buku ini menulis, tidak setiap orang mau mencatat setiap perjalanan yang pernah dilaluinya. Padahal, semua orang mampu melakukannya. Hanya sedikit orang yang mau berbagi catatan perjalanan kehidupannya. Salah satunya adalah Bayu Gawtama.

Bayu Gawtama memiliki filosofi hidup yang ia genggam, yaitu "Jika setiap tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah guru." Buku ini adalah catatan kisah perjalanannya dalam kehidupan sehari-hari. Kisah sederhana nampaknya, tetapi sesungguhnya memperkaya jiwa pembacanya. Bukankah hikmah itu terkandung di segala peristiwa?

Kisah seorang lelaki, seorang suami, dan seorang ayah dalam buku ini dikelompokkan dalam tujuh bagian. Bagian pertama berbicara tentang sahabat. Bagian kedua berbicara tentang hikmah perjalanan. Bagian ketiga mengenai orang-orang tercinta. Bagian keempat pelajaran dari orang-orang yang berhati mulia. Bagian kelima berisikan keyakinan mengenai kebesaran-Nya. Bagian keenam merupakan nostalgia di masa kanak-kanak. Bagian terakhir semacam renungan atau refleksi hati.

Banyak kisah menarik dapat kita temui di buku ini. Kisah yang mengajarkan bagaimana menjadi lelaki. Entah sebagai ayah, suami, maupun pribadi. Tiga di antara kisah-kisah menarik itu adalah "Sesal Hingga Pagi", "Lelaki Sebelas Amanah", dan "Elegi Si Pencari Rezeki".

"Sesal Hingga Pagi" menceritakan pengalaman Gaw saat menumpang angkot. Ia dan sebagian besar penumpang lain menginginkan angkot tersebut berbelok karena jika menggunakan jalur lurus bisa membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit. Hanya seorang ibu muda yang terpaksa turun dan berjalan kaki ke arah jalur lurus karena kalah suara. Hal ini menimbulkan sesal di hati karena perempuan itu ternyata harus berjalan dengan dua tongkat di pangkal lengannya!

Pengalaman Gaw saat naik becak yang dikayuh seorang bapak separuh baya tertuang dalam "Amanah Sebelas Lelaki". Obrolan mereka tentang anak berbuah rasa malu. Betapa tidak, saat Gaw menyatakan bahwa anaknya baru dua orang tetapi sudah merasa kerepotan. Adapun sang pengayuh becak justru memiliki sepuluh anak. Berarti ada sebelas amanah yang ditanggungnya. Hebatnya, sang pengayuh becak menyikapinya dengan lapang, "Anak-anak itu amanah dari Gusti Allah, Pak. Dia tidak akan mengamanahkannya kepada kita kalau Dia tidak tahu kemampuan kita. Dia tahu persis bahwa lelaki seperti kita mampu dititipkan amanah", bagitu tutur indahnya.

Di "Elegi Si Pencari Rezeki" kita diingatkan, pernahkah kita memperhatikan kehalalan makanan yang kita konsumsi. Makanan untuk pribadi, istri, maupun anak-anaknya. Gaw menuliskan pengalamnnya di sebuah franchise bakmi;

"Mie satu, juice jeruknya satu," pelayan itu pun mencatat pesanan saya. "Eh Mbak, sambil nunggu pesanan saya tadi, boleh saya minta segelas air putih untuk membetalkan puasa saya?" pinta saya secara halus. Tiba-tiba, dengan seulas senyum tapi sambil takut-takut pelayan itu berbisik,

"Mas muslim? Lebih baik batalkan saja pesanan mienya. Ini tidak halal buat muslim. Soal air putih, segera saya bawakan, gratis untuk yang berpuasa." (halaman 145-146).

Nah, kalaulah ada orang yang begitu peduli akan kehalalan makanan yang kita konsumsi, sudahkah diri kita juga peduli?


Bedah Soal Bahasa Indonesia Try Out Gunadarma


Berikut ini pembahasan beberapa soal Bahasa Indonesia SMA Program Bahasa. Soal diambil dari dua paket soal Try Out Gunadarma 2012. Hanya sedikit memang. Namun, semoga yang sedikit ini dapat menambah bekal siswa kelas XII, khususnya Program Bahasa, dalam menghadapi UN 2012. Selamat belajar!

34 (Paket Soal 35 A). Cermati kalimat-kalimat berikut!
1. Tim kami melakukan uji ketangguhan.
2. Saya sedang menulis puisi.
3. Siswa-siswa melakukan penelitian ilmiah.
4. Nurhayati cantik sekali.
5. Mereka sangat berbahagia.

Kalimat yang menggunakan frasa nominal (frasa benda) adalah nomor ....
A. (1) dan (2)
B. (1) dan (3)
C. (2) dan (3)
D. (3) dan (4)
E. (4) dan (5)

Pembahasan

Frasa nominal adalah kelompok kata yang menduduki kelas kata benda.
1. Tim kami (frasa nominal/benda, S) melakukan (verbal/kata kerjaP) uji ketangguhan (frasa verbal/kerja, O).
2. Saya (nominal/kata benda,S) sedang menulis (frasa verbal/kerja, P) puisi (nominal/kata benda,O).
3. Siswa-siswa (nominal/kata benda, S) melakukan (verbal/kata kerja, P) penelitian ilmiah (frasa nominal/benda, O).
4. Nurhayati (nominal/kata benda, S) cantik sekali (frasa adjektifal/sifat, P).
5. Mereka (nominal/kata benda, S) sangat berbahagia (frasa adjektifal/sifat, P).
Kunci jawaban adalah B.

36 (Paket Soal 35 A). Cermati paragraf berikut!
(1) Kecelakaan balon udara terjadi di pinggiran Carterton. (2) Kecelakaan yang terjadi Sabtu pagi waktu setempat itu menewaskan 11 orang yang terdiri dari 1 pilot dan 10 penumpang. (3) Menurut Komandan Polisi Selandia Baru, Kabupaten Wellington, Inspektur Mike Rusbatch diduga api berasal dari papan balon sebelum akhirnya jatuh ke tanah. (4) Seorang saksi mata kepadaRadio Selandia Baru mengatakan bahwa api terlihat ketika balon tersebut jatuh ke tanah dan terlihat juga kepulan asap. (5) Saksi juga sempat mendengar suara benda jatuh dan seketika api menjalar di sisi keranjang balon.

Kalimat tunggal dalam paragraf tersebut adalah nomor ....
A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)
E. (5)

Pembahasan

Kalimat tunggal adalah kalimat yang memiliki 1 (satu) Predikat saja.
(1) Kecelakaan balon udara (S) terjadi (P) di pinggiran Carterton (K tempat).--> 1 P
(2) Kecelakaan yang terjadi Sabtu pagi waktu setempat itu (S [s-p-kw])menewaskan (P)11 orang(O) yang terdiri dari 1 pilot dan 10 penumpang (K).-->2 P
(3) Menurut Komandan Polisi Selandia Baru, Kabupaten Wellington, Inspektur Mike Rusbatch (K [s-p]) diduga api (S)berasal (P) dari papan balon (K asal)sebelum akhirnya jatuh ke tanah (K waktu).-->2 P
(4) Seorang saksi mata (S)kepadaRadio Selandia Baru (K) mengatakan (P) bahwa api terlihat ketika balon tersebut jatuh ke tanah (K [s-p-k waktu])dan (+) terlihat juga kepulan asap (K penjelas [p-pel]).-->3 P
(5) Saksi (S) juga sempat mendengar (P) suara benda jatuh (O [s-p]) dan seketika (+) api (S)menjalar (P)di sisi keranjang balon (K tempat).-->3 P
Kunci jawaban adalah A.

37 (Paket Soal 35 A). Cermati kalimat-kalimat berikut!
1. Siswa itu sedang belajar.
2. Tasnya digantung di bahunya.
3. Ayahnya guru SMAN 150.
4. Ibunya pengusaha batik.
5. Mereka sedang berdiskusi.

Kalimat nominal adalah nomor ....
A. (1) dan (2)
B. (1) dan (3)
C. (2) dan (3)
D. (3) dan (4)
E. (4) dan (5)

Pembahasan

Kalimat nominal adalah kalimat dengan predikat kata benda (nominal).
1. Siswa itu (S, kata benda) sedang belajar (P, kata kerja).
2. Tasnya (S, kata benda) digantung (P, kata kerja) di bahunya (K, kata benda).
3. Ayahnya (S, kata benda) guru SMAN 150 (P, kata benda).
4. Ibunya (S, kata benda) pengusaha batik (P, kata benda).
5. Mereka (S, kata benda) sedang berdiskusi (P, kata kerja).
Kunci jawaban adalah D.

38 (Paket Soal 36 B). Cermati paragraf berikut!
(1) Kegiatan Forum Pemuda Jakarta memfokuskan diri pada pelayanan masalah sosial. (2) Kegiatannya berupa pemberian santunan kepada masyarakat yang kurang mampu. (3) Selama ini mereka selalu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang positif. (4) Oleh karena itu, kini mereka mendapat pembinaan dari Pemprov DKI Jakarta. (5) Forum ini menjadi aset Pemprov DKI Jakarta selain Karang Taruna.

Kalimat yang berpola K – S – P – O adalah nomor ....
A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)
E. (5)

Pembahasan

(1) Kegiatan Forum Pemuda Jakarta (S) memfokuskan (P) diri (O) pada pelayanan masalah sosial (K).
(2) Kegiatannya (S) berupa (P) pemberian santunan (Pel) kepada masyarakat yang kurang mampu (K).
(3) Selama ini (K) mereka (S) selalu melaksanakan (P) kegiatan-kegiatan yang positif (O).
(4) Oleh karena itu (+), kini (K) mereka (S) mendapat (P) pembinaan (O)dari Pemprov DKI Jakarta (K).
(5) Forum ini (S) menjadi(P) aset Pemprov DKI Jakarta (Pel) selain Karang Taruna (K).
Kunci jawaban adalah C.

41 (Paket Soal 36 B). Cermati paragraf berikut!
(1) Sungguh tak disangka PHK dari tempat kerjanya yang dialami Albert Porsiana, seorang sarjana, justru menjadi awal kesuksesannya. (2) Ia sukses mengembangkan agroindustri peternakan di Nusa Tenggara Timur. (3) Dia bersyukur atas jiwa kewirausahaan yang ditanamkan keluarganya sehingga semangatnya tidak surut untuk mencari terobosan bisnis. (4) Dia lalu melakukan survei terhadap dua bidang usaha yang dinilainya prospektif, yakni bambu untuk pembuatan tusuk gigi dan bisnis daging sapi. (5) Akhirnya dia memilih bisnis daging sapi.

Kata yang mengalami penyempitan makna terdapat dalam kalimat nomor ....
A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)
E. (5)

Pembahasan

Penyempitan makna adalah kata yang sebelumnya digunakan untuk hal yang umum sekarang hanya pada hal terbatas (khusus).
(1) Sungguh tak disangka PHK dari tempat kerjanya yang dialami Albert Porsiana, seorang sarjana, justru menjadi awal kesuksesannya.
Kata sarjana berasal dari bahasa Sansekerta sajjana yang berarti orang yang memiliki kelebihan di berbagai bidang ilmu. Saat ini sarjana hanya digunakan untuk mahasiswa yang sudah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.
Kunci jawaban adalah A.

45 (Paket Soal 36 B). Cermati kalimat-kalimat berikut!
(1) Kami terus berdoa semoga kami segera bisa naik haji.
Kit atidak boleh sombong walaupun kita sedang naik daun.
(2) Apakah Saudara masih ingat di mana tas itu disimpan?
Kehadiran Saudara dalam acara nanti sangat kami tunggu!
(3) Kakek harus segera dibawa ke dokter karena sakit.
Kita pasti sakit hati jika dikhianati sahabat karib.
(4) Kakak memasangkan pita merah di kepala adiknya.
Ibu menutup kepalanya karena hujan rintik-rintik.
(5) Kita harus membaca dengan baik agar dapat menguasai seluruh isi buku.
Adik sedang duduk-duduk di halaman rumah sambil membaca buku.

Kalimat yang menggunakan kata berpolisemi adalah ....
A. (1) dan (2)
B. (1) dan (3)
C. (2) dan (4)
D. (3) dan (5)
E. (4) dan (5)

Pembahasan

Polisemi adalah kata yang memiliki beragam makna.
(1) Kata naik haji bermakna menunaikan ibadah haji. Kata naik daun bermakna sedang meraih popularitas.
(3) Kata sakit bermakna kondisi tubuh tidak fit. Kata sakit hati bermakna rasa tersinggung.
Kunci jawaban adalah B.

46 (Paket Soal 36 B). Cermati kalimat-kalimat berikut ini!
(1) Sudah banyak yang tahu bahwa Jakarta merupakan kota yang sangat keras. (2) Kejahatan berupa penodongan dan pencurian sering terjadi. (3) Peristiwa yang mengerikan juga sering kita baca dari surat kabar. (4) Siapa pun yang menjadi warganya atau yang berkunjung ke Jakarta harus waspada. (5) Hal itu agar terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan.

Kalimat yang menggunakan kata bermakna sinestesia adalah nomor ....
A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)
E. (5)

Pembahasan

Sinestesia adalah pergeseran makna kata yang ditandai dengan perubahan penginderaan.
(1) Kata keras semestinya hanya dapat dirasakan dengan indera peraba. Namun, dalam konteks kalimat(1), keras dirasakan oleh indera perasaan.
Kunci jawaban adalah A.

47 (Paket Soal 35 A). Cermati paragraf berikut!
(1) Kakakku bekerja di Pemda DKI Jakarta. (2) Dia lulusan teknik lingkungan. (3) Istrinya berasal dari Garut. (4) Mereka menikah sejak sepuluh tahun yang lalu. (5) Mereka mempunyai anak 4 orang, 2 orang anak laki-laki dan 2 orang anak perempuan.

Kalimat yang menggunakan kata bermakna peyorasi adalah nomor ....
A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)
E. (5)

Pembahasan

Peyorasi adalah kata yang memiliki nilai rasa lebih rendah dibandingkan kata lain yang semakna.
(1) Kakakku bekerja di Pemda DKI Jakarta.
(2) Dia lulusan teknik lingkungan.
(3) Istrinya berasal dari Garut. (kata istri memiliki nilai rasa lebih baik (ameliorasi) dibandingkan kata bini)
(4) Mereka menikah sejak sepuluh tahun yang lalu. (kata menikah memiliki nilai rasa lebih baik dibandingkan kata kawin)
(5) Mereka mempunyai anak 4 orang, 2 orang anak laki-laki dan 2 orang anak perempuan.(kata anak memiliki nilai rasa lebih rendah dibandingkan kata putra)





Skenario-Nya


Skenario-Nya


“Memangnya kamu tidak tahu kalau aku sudah punya pacar!” suara gadis itu terdengar tajam. Aku tahu! Di bagian kampus manapun aku selalu melihatmu berdua dengan seorang lelaki. Lelaki yang itu-itu juga!

“Yah... aku tahu...” lemah terdengar suaraku sendiri di telepon.

“Lalu kenapa kamu masih mengungkapkan perasaan kamu?” nada tanyanya cenderung meradang. Akh! Pacar itu belum tentu akan menjadi suamimu! Kalau teman-temanku bilang, selama janur kuning belum terpasang atau lamaran belum terlaksanakan, maka setiap lelaki berhak untuk menyuntingmu.

“Karena aku cinta kamu...” ujarku tulus. Bukan gombal. Setiap melihatmu selalu ada yang berdesir di dada ini. Hal ini terjadi hanya pada saat melihatmu. Tidak dengan gadis yang lain!

“Itu namanya cinta buta, tahu! Bagaimana bisa kamu mencintai perempuan yang sudah punya pacar? Silahkan cintai perempuan lain yang belum ada yang punya!” masih ada nuansa emosi di suaranya. Aduh! Cinta tidak bisa dipalingkankan begitu saja, sayang!

“Tidak ada yang sepertimu...”

“Ya jangan mencari yang seperti aku, dong! Tuhan tidak menciptakan dua manusia yang sama persis!” sudah terasa ada hentakan di sana.

“Kamu tidak mengerti perasaanku...”

“Aku tidak perlu mengerti perasaan kamu! Kamu sendiri tidak mau mengerti perasaan orang lain!” Aku mengerti perasaanmu! Namun, aku tidak mungkin memendam perasaan yang tidak seperti biasanya ini. Sudah beberapa kali aku jatuh cinta. Belum ada yang sedahsyat ini. Yang mengganggu tidur malamku. Yang mengoyak konsentrasi belajarku. Yang menghancurkan nafsu makanku. Yang membuat aku menjadi seseorang yang sulit untuk bernafas kecuali setelah mengeja namamu.

“Kamu marah karena aku mencintai kamu?” tanyaku bodoh.

“Ya!”

“Kok?”

“Mengapa kok?”

“Aku benar-benar mencintai kamu...”

KLIK!!! Sambungan komunikasi telepon diputus secara sengaja dari sana.

*

Hari-hari yang berat. Semakin berat ketika harus menyaksikan gadis itu berduaan dengan kekasihnya. Mereka yang biasanya hanya berjalan berdampingan kini terlihat bergandengan tangan atau bahkan berangkulan. Demonstratif sekali! Kuyakin ini hanya terjadi jika di hadapanku!

“Sudahlah! Masih banyak perempuan lain yang lebih baik dan lebih cantik dari dia!” hibur seorang teman.

“Gue yakin elo bisa dapat perempuan yang lebih dari dia!” teman yang lain coba berpartisipasi menghibur. Namun, ucapannya terasa membabi buta!

“Gue heran sama elo! Selalu jatuh cinta sama perempuan yang sudah punya pasangan! Ke psikiater, gih!”

BUGH! Aku cuma bisa melotot.

“Iya! Dulu Yati pacar si Tono, terus Maria isteri muda Pak Yanto, Dewi yang sudah punya tunangan, dan sekarang Alena pacar Robby. Habis ini siapa lagi?”
Aaakh! Kalian semua tidak mengerti cinta. Cinta itu bisa datang kepada siapa saja, kapan saja, di mana saja! Dan yang terpenting, perasaan cintaku pada tiga perempuan sebelumnya tidak sedalam yang sekarang!

Yati pacar Tono? Aku baru tahu belakangan. Aku lebih dulu kenal Yati di SMA. Saat Tono aku tawarkan untuk kukenalkan padanya, dia menolak. Tidak tahu bagaimana ceritanya sehingga mereka berpacaran. Yang jelas aku merasa Yati memperlakukanku sebagai pahlawannya. Hanya karena kukembalikan buku hariannya yang kutemukan di kantin. Setelah tahu Yati menyukai Tono, aku mundur perlahan.

Tentang Maria, jangan dibayangkan aku seorang perusak rumah tangga orang! usiaku dan Maria hanya selisih tiga tahun. Ketika ia dinikahkan secara paksa kepada seorang lelaki beristeri, ia hanya bisa pasrah. Meskipun hati tak bisa menerima. Dan aku hadir sebagai seorang pendengar yang baik baginya. Sekaligus pengisi kesepian hidupnya yang ternyata sering diabaikan oleh suaminya. Tidak ada yang melewati batas. Semua berakhir tatkala ayah dan ibuku menginginkan keluarga kami tidak lagi menjadi buah bibir di lingkungan kami tinggal. Aku memang kasihan terhadap Maria. Namun, aku mencintai keluargaku.

Adapun dengan Dewi berbeda lagi alasannya. Ada kepuasan tersendiri ketika mengetahui seorang lelaki overprotektif kebakaran jenggot sewaktu tahu tunangannya berdua dengan lelaki lain. Selama ini namaku dan nama teman lelaki lain tidak boleh ada dalam daftar nomor telepon Dewi. Itu semua keinginan lelaki itu. Berlebihan sekali bukan? Aku pun berhenti mencintai Dewi setelah dia benar-benar dinikahi oleh tunangannya itu.

Alena? Hmmm… Ada gadis yang tidak pernah terlambat ikut perkuliahan? Ada gadis yang mau berlama-lama di kampus untuk menjadi kepanitiaan ini-itu? Ada gadis yang dengan berbagai aktivitas masih memiliki Indeks Prestasi selalu di atas 3,5? Ada gadis cantik dengan seabrek prestasi? Kalau ada selain Alena, kenalkan aku padanya!

“Elo bayangkan kalau elo jadi Robby, bagaimana perasaan elo?” pertanyaan yang menyentak. Yah, tentu saja aku tak akan rela jika kekasihku ada yang berusaha memiliki!

“Nah, sekarang lebih baik elo manfaatkan energi elo buat masa depan elo sendiri! Dunia tidak selebar daun kelor! Perempuan pun bukan hanya Alena!” Aku mengangguk setuju. Aku harus bangkit! Yah, tentu saja! Bel sudah berdering. Tanda perkuliahan kedua akan dimulai. Kalau tidak, bisa diusir Mr. Subronto, dosen paling killer di fakultasku.

*

Berantai masa telah berlalu. Kini aku hidup bahagia dengan seorang isteri dan seorang anak yang lucu. Meskipun tidak secantik Alena, ada rasa teduh ketika memandanginya.

“Hey, apa kabar?!” suara dan tepukan di pundak yang mengagetkan. Seorang teman saat kuliah dulu.

“Alhamdulillah…” jawabku low profile.

“Anak?” tanyanya seraya menunjuk jagoan cilikku. Aku mengangguk.

“Isteri elo?” pertanyaan lagi. Kuarahkan telunjukku ke kassa. Kami memang sedang berbelanja.

“Cantik juga…” decaknya. Meskipun tak secantik Alena, batinku sinting.

“Sudah dengar kabar Alena?” pertanyaan yang membangkitkan dasar memori di hatiku.

“Belum! Bagaimana dia sekarang?” Alamak! Nyata sekali ada keantusiasan dalam nada tanyaku. Rasanya ada yang mengalir di wajah ini.

“Kasihan dia! Robby mendapat kecelakaan satu hari sebelum pernikahan mereka. Ia tewas. Alena terpukul. Berbulan-bulan ia mengurung diri. Sekarang dia di rumah sakit jiwa…” Aku tidak menangkap kata-kata yang ia ucapkan setelah itu. Tak lama setelah berucap, teman lama itu pun berlalu.

Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Seolah ada yang mengoyak isi dada ini sedikit. Mengapa begitu tragis nasibmu, gadisku?

“Papa! Itu mama sudah selesai!”

***

Selesai