Pusara

 


Tadi siang banyak yang dikubur
satu... dua... dan tiga
Hmmm...
Mungkin lebih dari itu
Bauran bunga dan tanah basah menghembus tajam
menandakannya

Aku terpekur menatap nanap...
Julangan pusara yang tertancap
bangkitkanku dari tidur yang lelap
Aku terkesiap
Betapa waktu yang lindap
melenakanku dalam jutaan harap

Kembali mata ini menanap
ke barisan pusara yang menjulang
Satu di antaranya, kusimpuhi
Dalam nisan tergores sebuah nama
orang yang seharusnya kukasihi
tapi telah pergi

Aku jadi ingat...
Harusnya banyak pusara yang menghujat
Bukan hanya pusara itu
yang memiliki rasa rindu
padaku
pada doaku

Dengan saat yang singkat
kuhendak tinggalkan barisan pusara
Kembali kuhitung yang mau dikubur
satu... dua... dan...
Hmmm...
Hilang satu

Kucari jejak yang menanda
tapi tiada....

ditulis di Jakarta, 25 November 1997

Jakarta, Senin, 26 November 2023

Selamat Ulang Tahun, Guru


Hari ini, 25 November 2010, para guru merayakan hari lahirnya yang ke-65 tahun. Begitu banyak yang perlu diperbaiki. Betapa banyak yang masih harus dikerjakan. Berbagai kalangan pun teramat mendambakan kehadirannya yang lebih berarti.

Guru. Sosok yang seharusnya dihormati dan diteladani. Dahulu ia begitu dibanggakan. Sampai-sampai negeri jiran Malaysia pun mengharapkan bantuan tenaga para guru Indonesia.

Guru. Dahulu profesi ini begitu dipandang sebelah mata. Begitu berbicara tentang guru, maka yang terlintas adalah sosok pengabdi yang di tengah himpitan ekonomi terus berusaha mencerdaskan putra bangsa. Di satu sisi banyak masyarakat prihatin dengan penghasilannya. Di sisi lain justru banyak pula masyarakat yang menghormati kebersahajaannya.

Guru. Kini ia sebuah profesi yang menjadi incaran berjuta anak bangsa. Tentu saja dengan beragam motivasi.

Guru. Enam puluh lima tahun usiamu kini. Masa seharusnya engkau beristirahat dari keletihan dan kepenatan profesi.

Namun, dapatkah engkau beristirahat begitu saja. Masih teramat banyak pasang mata yang belum mampu menerjemahkan aksara. Masih teramat banyak pasang telinga yang belum terbiasa menyimak denting suara. Masih teramat banyak lubang wicara yang belum terbiasa bertutur dengan penuh krama. Masih teramat banyak pasang tangan yang belum terbiasa menghasilkan karya. Masih terlalu banyak pasang kaki yang belum terbiasa melangkah menjemput rezeki. Dan... masih terlampau banyak jiwa yang belum terbiasa merasa peka dengan berbagai nestapa.