34 (Paket Soal 35 A). Cermati
kalimat-kalimat berikut!
1. Tim kami melakukan uji ketangguhan.
2. Saya sedang menulis puisi.
3. Siswa-siswa melakukan penelitian ilmiah.
4. Nurhayati cantik sekali.
5. Mereka sangat berbahagia.
Kalimat yang menggunakan frasa nominal (frasa benda) adalah
nomor ....
A. (1) dan (2)
B. (1) dan (3)
C. (2) dan (3)
D. (3) dan (4)
E. (4) dan (5)
Pembahasan
Frasa nominal adalah kelompok kata yang menduduki kelas kata
benda.
1. Tim kami (frasa nominal/benda, S) melakukan (verbal/kata
kerjaP) uji ketangguhan (frasa verbal/kerja, O).
2. Saya (nominal/kata benda,S) sedang menulis (frasa
verbal/kerja, P) puisi (nominal/kata benda,O).
3. Siswa-siswa (nominal/kata benda, S) melakukan (verbal/kata
kerja, P) penelitian ilmiah (frasa nominal/benda, O).
4. Nurhayati (nominal/kata benda, S) cantik sekali (frasa
adjektifal/sifat, P).
5. Mereka (nominal/kata benda, S) sangat berbahagia (frasa
adjektifal/sifat, P).
Kunci jawaban adalah B.
36 (Paket Soal 35 A). Cermati paragraf berikut!
(1) Kecelakaan balon udara terjadi di pinggiran Carterton.
(2) Kecelakaan yang terjadi Sabtu pagi waktu setempat itu menewaskan 11 orang
yang terdiri dari 1 pilot dan 10 penumpang. (3) Menurut Komandan Polisi
Selandia Baru, Kabupaten Wellington, Inspektur Mike Rusbatch diduga api berasal
dari papan balon sebelum akhirnya jatuh ke tanah. (4) Seorang saksi mata
kepadaRadio Selandia Baru mengatakan bahwa api terlihat ketika balon tersebut
jatuh ke tanah dan terlihat juga kepulan asap. (5) Saksi juga sempat mendengar
suara benda jatuh dan seketika api menjalar di sisi keranjang balon.
Kalimat tunggal dalam paragraf tersebut adalah nomor ....
A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)
E. (5)
Pembahasan
Kalimat tunggal adalah kalimat yang memiliki 1 (satu)
Predikat saja.
(1) Kecelakaan balon udara (S) terjadi (P) di pinggiran
Carterton (K tempat).--> 1 P
(2) Kecelakaan yang terjadi Sabtu pagi waktu setempat itu (S
[s-p-kw])menewaskan (P)11 orang(O) yang terdiri dari 1 pilot dan 10 penumpang
(K).-->2 P
(3) Menurut Komandan Polisi Selandia Baru, Kabupaten
Wellington, Inspektur Mike Rusbatch (K [s-p]) diduga api (S)berasal (P) dari
papan balon (K asal)sebelum akhirnya jatuh ke tanah (K waktu).-->2 P
(4) Seorang saksi mata (S)kepadaRadio Selandia Baru (K) mengatakan
(P) bahwa api terlihat ketika balon tersebut jatuh ke tanah (K [s-p-k
waktu])dan (+) terlihat juga kepulan asap (K penjelas [p-pel]).-->3 P
(5) Saksi (S) juga sempat mendengar (P) suara benda jatuh (O
[s-p]) dan seketika (+) api (S)menjalar (P)di sisi keranjang balon (K
tempat).-->3 P
Kunci jawaban adalah A.
37 (Paket Soal 35 A). Cermati kalimat-kalimat berikut!
1. Siswa itu sedang belajar.
2. Tasnya digantung di bahunya.
3. Ayahnya guru SMAN 150.
4. Ibunya pengusaha batik.
5. Mereka sedang berdiskusi.
Kalimat nominal adalah nomor ....
A. (1) dan (2)
B. (1) dan (3)
C. (2) dan (3)
D. (3) dan (4)
E. (4) dan (5)
Pembahasan
Kalimat nominal adalah kalimat dengan predikat kata benda
(nominal).
1. Siswa itu (S, kata benda) sedang belajar (P, kata kerja).
2. Tasnya (S, kata benda) digantung (P, kata kerja) di
bahunya (K, kata benda).
3. Ayahnya (S, kata benda) guru SMAN 150 (P, kata benda).
4. Ibunya (S, kata benda) pengusaha batik (P, kata benda).
5. Mereka (S, kata benda) sedang berdiskusi (P, kata kerja).
Kunci jawaban adalah D.
38 (Paket Soal 36 B). Cermati paragraf berikut!
(1) Kegiatan Forum Pemuda Jakarta memfokuskan diri pada
pelayanan masalah sosial. (2) Kegiatannya berupa pemberian santunan kepada
masyarakat yang kurang mampu. (3) Selama ini mereka selalu melaksanakan
kegiatan-kegiatan yang positif. (4) Oleh karena itu, kini mereka mendapat
pembinaan dari Pemprov DKI Jakarta. (5) Forum ini menjadi aset Pemprov DKI
Jakarta selain Karang Taruna.
Kalimat yang berpola K – S – P – O adalah nomor ....
A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)
E. (5)
Pembahasan
(1) Kegiatan Forum Pemuda Jakarta (S) memfokuskan (P) diri
(O) pada pelayanan masalah sosial (K).
(2) Kegiatannya (S) berupa (P) pemberian santunan (Pel)
kepada masyarakat yang kurang mampu (K).
(3) Selama ini (K) mereka (S) selalu melaksanakan (P)
kegiatan-kegiatan yang positif (O).
(4) Oleh karena itu (+), kini (K) mereka (S) mendapat (P)
pembinaan (O)dari Pemprov DKI Jakarta (K).
(5) Forum ini (S) menjadi(P) aset Pemprov DKI Jakarta (Pel)
selain Karang Taruna (K).
Kunci jawaban adalah C.
41 (Paket Soal 36 B). Cermati paragraf berikut!
(1) Sungguh tak disangka PHK dari tempat kerjanya yang
dialami Albert Porsiana, seorang sarjana, justru menjadi awal kesuksesannya.
(2) Ia sukses mengembangkan agroindustri peternakan di Nusa Tenggara Timur. (3)
Dia bersyukur atas jiwa kewirausahaan yang ditanamkan keluarganya sehingga
semangatnya tidak surut untuk mencari terobosan bisnis. (4) Dia lalu melakukan
survei terhadap dua bidang usaha yang dinilainya prospektif, yakni bambu untuk
pembuatan tusuk gigi dan bisnis daging sapi. (5) Akhirnya dia memilih bisnis
daging sapi.
Kata yang mengalami penyempitan makna terdapat dalam kalimat
nomor ....
A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)
E. (5)
Pembahasan
Penyempitan makna adalah kata yang sebelumnya digunakan untuk
hal yang umum sekarang hanya pada hal terbatas (khusus).
(1) Sungguh tak disangka PHK dari tempat kerjanya yang
dialami Albert Porsiana, seorang sarjana, justru menjadi awal kesuksesannya.
Kata sarjana berasal dari bahasa Sansekerta sajjana yang
berarti orang yang memiliki kelebihan di berbagai bidang ilmu. Saat ini sarjana
hanya digunakan untuk mahasiswa yang sudah menyelesaikan pendidikan di
perguruan tinggi.
Kunci jawaban adalah A.
45 (Paket Soal 36 B). Cermati kalimat-kalimat berikut!
(1) Kami terus berdoa semoga kami segera bisa naik haji.
Kit atidak boleh sombong walaupun kita sedang naik daun.
(2) Apakah Saudara masih ingat di mana tas itu disimpan?
Kehadiran Saudara dalam acara nanti sangat kami tunggu!
(3) Kakek harus segera dibawa ke dokter karena sakit.
Kita pasti sakit hati jika dikhianati sahabat karib.
(4) Kakak memasangkan pita merah di kepala adiknya.
Ibu menutup kepalanya karena hujan rintik-rintik.
(5) Kita harus membaca dengan baik agar dapat menguasai seluruh
isi buku.
Adik sedang duduk-duduk di halaman rumah sambil membaca buku.
Kalimat yang menggunakan kata berpolisemi adalah ....
A. (1) dan (2)
B. (1) dan (3)
C. (2) dan (4)
D. (3) dan (5)
E. (4) dan (5)
Pembahasan
Polisemi adalah kata yang memiliki beragam makna.
(1) Kata naik haji bermakna menunaikan ibadah haji. Kata naik
daun bermakna sedang meraih popularitas.
(3) Kata sakit bermakna kondisi tubuh tidak fit. Kata sakit
hati bermakna rasa tersinggung.
Kunci jawaban adalah B.
46 (Paket Soal 36 B). Cermati kalimat-kalimat berikut ini!
(1) Sudah banyak yang tahu bahwa Jakarta merupakan kota yang
sangat keras. (2) Kejahatan berupa penodongan dan pencurian sering terjadi. (3)
Peristiwa yang mengerikan juga sering kita baca dari surat kabar. (4) Siapa pun
yang menjadi warganya atau yang berkunjung ke Jakarta harus waspada. (5) Hal
itu agar terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan.
Kalimat yang menggunakan kata bermakna sinestesia adalah
nomor ....
A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)
E. (5)
Pembahasan
Sinestesia adalah pergeseran makna kata yang ditandai dengan
perubahan penginderaan.
(1) Kata keras semestinya hanya dapat dirasakan dengan indera
peraba. Namun, dalam konteks kalimat(1), keras dirasakan oleh indera perasaan.
Kunci jawaban adalah A.
47 (Paket Soal 35 A). Cermati paragraf berikut!
(1) Kakakku bekerja di Pemda DKI Jakarta. (2) Dia lulusan
teknik lingkungan. (3) Istrinya berasal dari Garut. (4) Mereka menikah sejak
sepuluh tahun yang lalu. (5) Mereka mempunyai anak 4 orang, 2 orang anak
laki-laki dan 2 orang anak perempuan.
Kalimat yang menggunakan kata bermakna peyorasi adalah nomor
....
A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)
E. (5)
Pembahasan
Peyorasi adalah kata yang memiliki nilai rasa lebih rendah
dibandingkan kata lain yang semakna.
(1) Kakakku bekerja di Pemda DKI Jakarta.
(2) Dia lulusan teknik lingkungan.
(3) Istrinya berasal dari Garut. (kata istri memiliki nilai
rasa lebih baik (ameliorasi) dibandingkan kata bini)
(4) Mereka menikah sejak sepuluh tahun yang lalu. (kata
menikah memiliki nilai rasa lebih baik dibandingkan kata kawin)
(5) Mereka mempunyai anak 4 orang, 2 orang anak laki-laki dan
2 orang anak perempuan.(kata anak memiliki nilai rasa lebih rendah dibandingkan
kata putra)
Bedah Soal Bahasa Indonesia Try Out Gunadarma
Skenario-Nya
“Memangnya kamu tidak tahu kalau aku sudah punya pacar!” suara gadis itu
terdengar tajam. Aku tahu! Di bagian kampus manapun aku selalu melihatmu berdua
dengan seorang lelaki. Lelaki yang itu-itu juga!
“Yah... aku tahu...” lemah terdengar suaraku sendiri di telepon.
“Lalu kenapa kamu masih mengungkapkan perasaan kamu?” nada tanyanya cenderung
meradang. Akh! Pacar itu belum tentu akan menjadi suamimu! Kalau teman-temanku
bilang, selama janur kuning belum terpasang atau lamaran belum terlaksanakan,
maka setiap lelaki berhak untuk menyuntingmu.
“Karena aku cinta kamu...” ujarku tulus. Bukan gombal. Setiap melihatmu selalu
ada yang berdesir di dada ini. Hal ini terjadi hanya pada saat melihatmu. Tidak
dengan gadis yang lain!
“Itu namanya cinta buta, tahu! Bagaimana bisa kamu mencintai perempuan yang
sudah punya pacar? Silahkan cintai perempuan lain yang belum ada yang punya!”
masih ada nuansa emosi di suaranya. Aduh! Cinta tidak bisa dipalingkankan
begitu saja, sayang!
“Tidak ada yang sepertimu...”
“Ya jangan mencari yang seperti aku, dong! Tuhan tidak menciptakan dua manusia
yang sama persis!” sudah terasa ada hentakan di sana.
“Kamu tidak mengerti perasaanku...”
“Aku tidak perlu mengerti perasaan kamu! Kamu sendiri tidak mau mengerti perasaan
orang lain!” Aku mengerti perasaanmu! Namun, aku tidak mungkin memendam
perasaan yang tidak seperti biasanya ini. Sudah beberapa kali aku jatuh cinta.
Belum ada yang sedahsyat ini. Yang mengganggu tidur malamku. Yang mengoyak
konsentrasi belajarku. Yang menghancurkan nafsu makanku. Yang membuat aku
menjadi seseorang yang sulit untuk bernafas kecuali setelah mengeja namamu.
“Kamu marah karena aku mencintai kamu?” tanyaku bodoh.
“Ya!”
“Kok?”
“Mengapa kok?”
“Aku benar-benar mencintai kamu...”
KLIK!!! Sambungan komunikasi telepon diputus secara sengaja dari sana.
*
Hari-hari yang berat. Semakin berat ketika harus menyaksikan gadis itu berduaan
dengan kekasihnya. Mereka yang biasanya hanya berjalan berdampingan kini
terlihat bergandengan tangan atau bahkan berangkulan. Demonstratif sekali!
Kuyakin ini hanya terjadi jika di hadapanku!
“Sudahlah! Masih banyak perempuan lain yang lebih baik dan lebih cantik dari
dia!” hibur seorang teman.
“Gue yakin elo bisa dapat perempuan yang lebih dari dia!” teman yang lain coba
berpartisipasi menghibur. Namun, ucapannya terasa membabi buta!
“Gue heran sama elo! Selalu jatuh cinta sama perempuan yang sudah punya
pasangan! Ke psikiater, gih!”
BUGH! Aku cuma bisa melotot.
“Iya! Dulu Yati pacar si Tono, terus Maria isteri muda Pak Yanto, Dewi yang
sudah punya tunangan, dan sekarang Alena pacar Robby. Habis ini siapa lagi?”
Aaakh! Kalian semua tidak mengerti cinta. Cinta itu bisa datang kepada siapa
saja, kapan saja, di mana saja! Dan yang terpenting, perasaan cintaku pada tiga
perempuan sebelumnya tidak sedalam yang sekarang!
Yati pacar Tono? Aku baru tahu belakangan. Aku lebih dulu kenal Yati di SMA.
Saat Tono aku tawarkan untuk kukenalkan padanya, dia menolak. Tidak tahu
bagaimana ceritanya sehingga mereka berpacaran. Yang jelas aku merasa Yati
memperlakukanku sebagai pahlawannya. Hanya karena kukembalikan buku hariannya
yang kutemukan di kantin. Setelah tahu Yati menyukai Tono, aku mundur perlahan.
Tentang Maria, jangan dibayangkan aku seorang perusak rumah tangga orang!
usiaku dan Maria hanya selisih tiga tahun. Ketika ia dinikahkan secara paksa
kepada seorang lelaki beristeri, ia hanya bisa pasrah. Meskipun hati tak bisa
menerima. Dan aku hadir sebagai seorang pendengar yang baik baginya. Sekaligus
pengisi kesepian hidupnya yang ternyata sering diabaikan oleh suaminya. Tidak
ada yang melewati batas. Semua berakhir tatkala ayah dan ibuku menginginkan
keluarga kami tidak lagi menjadi buah bibir di lingkungan kami tinggal. Aku
memang kasihan terhadap Maria. Namun, aku mencintai keluargaku.
Adapun dengan Dewi berbeda lagi alasannya. Ada kepuasan tersendiri ketika
mengetahui seorang lelaki overprotektif kebakaran jenggot sewaktu tahu
tunangannya berdua dengan lelaki lain. Selama ini namaku dan nama teman lelaki
lain tidak boleh ada dalam daftar nomor telepon Dewi. Itu semua keinginan
lelaki itu. Berlebihan sekali bukan? Aku pun berhenti mencintai Dewi setelah
dia benar-benar dinikahi oleh tunangannya itu.
Alena? Hmmm… Ada gadis yang tidak pernah terlambat ikut perkuliahan? Ada gadis
yang mau berlama-lama di kampus untuk menjadi kepanitiaan ini-itu? Ada gadis
yang dengan berbagai aktivitas masih memiliki Indeks Prestasi selalu di atas
3,5? Ada gadis cantik dengan seabrek prestasi? Kalau ada selain Alena, kenalkan
aku padanya!
“Elo bayangkan kalau elo jadi Robby, bagaimana perasaan elo?” pertanyaan yang
menyentak. Yah, tentu saja aku tak akan rela jika kekasihku ada yang berusaha
memiliki!
“Nah, sekarang lebih baik elo manfaatkan energi elo buat masa depan elo
sendiri! Dunia tidak selebar daun kelor! Perempuan pun bukan hanya Alena!” Aku
mengangguk setuju. Aku harus bangkit! Yah, tentu saja! Bel sudah berdering.
Tanda perkuliahan kedua akan dimulai. Kalau tidak, bisa diusir Mr. Subronto,
dosen paling killer di fakultasku.
*
Berantai masa telah berlalu. Kini aku hidup bahagia dengan seorang isteri dan
seorang anak yang lucu. Meskipun tidak secantik Alena, ada rasa teduh ketika
memandanginya.
“Hey, apa kabar?!” suara dan tepukan di pundak yang mengagetkan. Seorang teman
saat kuliah dulu.
“Alhamdulillah…” jawabku low profile.
“Anak?” tanyanya seraya menunjuk jagoan cilikku. Aku mengangguk.
“Isteri elo?” pertanyaan lagi. Kuarahkan telunjukku ke kassa. Kami memang
sedang berbelanja.
“Cantik juga…” decaknya. Meskipun tak secantik Alena, batinku sinting.
“Sudah dengar kabar Alena?” pertanyaan yang membangkitkan dasar memori di
hatiku.
“Belum! Bagaimana dia sekarang?” Alamak! Nyata sekali ada keantusiasan dalam
nada tanyaku. Rasanya ada yang mengalir di wajah ini.
“Kasihan dia! Robby mendapat kecelakaan satu hari sebelum pernikahan mereka. Ia
tewas. Alena terpukul. Berbulan-bulan ia mengurung diri. Sekarang dia di rumah
sakit jiwa…” Aku tidak menangkap kata-kata yang ia ucapkan setelah itu. Tak
lama setelah berucap, teman lama itu pun berlalu.
Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Seolah ada yang mengoyak isi dada ini
sedikit. Mengapa begitu tragis nasibmu, gadisku?
“Papa! Itu mama sudah selesai!”
***
Selesai

