Harakiri

 


Untuk Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Baru kini kutahu pasti
Mengapa UN menjegal belasan anak kami
Ternyata mereka memang layak untuk itu

Dari mana kutahu?
Baru lima belas menit soal dibagi
Mereka sudah terbengong-bengong menanti-nanti!
Apa yang mereka nanti?

Ho… ho… baru kini kutahu pasti
Mereka menanti guru mereka yang telah berjanji mengumbar kunci
Guru mereka yang merasa bak pahlawan seperti Panji

Baru kini kutahu pasti
Mengapa UN menjegal belasan anak kami

Ternyata guru mereka juga masih perlu diuji
Sebab kunci yang mereka beri masih harus direvisi
Lima puluh nomor yang sudah dibulatkan
Lima puluh nomor yang harus diperbaiki

Wahai Guru!
Jangan pernah merasa menjadi pahlawan tanpa tanda jasa
Jika muridmu masih kauracuni dengan kebodohanmu yang memalukan dan memilukan itu
Carilah sebilah pedang!
Tancapkan ke dadamu!
Itu masih lebih terhormat bagimu
Dibandingkan kauracuni berjuta anak bangsa dengan sikapmu yang berjuta tapi

dari sebuah ruang ujian Paket C
Jakarta, Kamis 25 Juni 2009

Ahad, 25 Juni 2023

Aku Sebutir Debu


Tuhan!
Air mata ini masih mengalir
bukan hanya karena luka
tapi juga andil tawa

luka...
telah puas aku dicumbunya
dengan segala permainan gila

tawa...
tak pernah malu kumerayunya
walau dengan air mata buaya

Tuhan!
Belum kering air mata ini
bukan hanya karena nista
tapi juga hati berdebu

dan aku adalah sebutir debu yang mudah Kau kibas.

Jakarta, 22 Juni 1999

Belajar dari Kearifan Pribumi


Belajar dari Kearifan Pribumi

 

Judul Buku : Pelangi Nurani

Penulis : Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa

Penerbit: PT Syaamil Cipta Media

Tahun : Februari, 2002

Tebal : 144 halaman


         Sebuah buku inspiratif berisikan 32 kisah nyata yang ditulis ulang oleh kakak-adik pendekar sastra Islami, Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa. Isi buku ini diklasifikasikan atas enam tema, yaitu Tentang Cinta dan Pengorbanan, Tentang Makna dan Pengajaran, Tentang Sudut Pandang, Tentang Perhatian dan Persahabatan, Tentang Sikap, dan Tentang Sakit dan Kematian. Hal ini tentu saja memudahkan pembaca untuk memilih kisah mana yang ingin dibaca terlebih dulu. Hampir seluruh kisah dapat menyentuh hati. Kisah yang paling menyentuh antara lain adalah “Untuk Adik-Adik di Rumah”, “Sumbangan”, dan “Pelajaran Berharga”. Namun, kisah yang lain pun tidak bisa dilewatkan begitu saja. Apalagi setiap kisah umumnya berlangsung singkat sehingga tidak terlalu memakan waktu untuk menemukan hikmah di dalamnya.

Buku ini ibarat tetes embun yang dibutuhkan manusia Indonesia, khususnya umat Islam, saat ini. Begitu banyak kisah inspiratif yang dapat kita baca, tetapi yang bernuansa lokal dengan corak Islami barangkali masih sedikit. Buku ini sebenarnya dapat mengobati kerinduan kita akan motivasi-motivasi yang lebih realistis dan membumi. Buku ini mampu menguras air mata tanpa diminta. Sayangnya pengemasannya terlalu ‘ala kadarnya’.

Saat pertama kali menemukan buku ini di toko buku, peresensi mendapatkannya di lemari bagian bawah bercampur dengan buku-buku dengan kemasan tidak menarik lainnya. Harganya juga cukup murah untuk saat itu (22 Oktober 2003), yaitu Rp. 18.500. Satu hal yang sekiranya dapat dipertimbangkan oleh penerbit untuk mencetak ulang dengan kemasan yang lebih pantas untuk buku berbobot ini.